![]() |
| Musisi gamelan Jawa memainkan gong tradisional dengan pakaian merah dalam pertunjukan budaya memukau. (Gambar oleh Joko Narimo dari Pixabay) |
Sastranusa.id, Madura - Di sejumlah panggung kecil hingga ruang-ruang alternatif di Bangkalan, denting gamelan Madura kembali terdengar dengan nuansa berbeda. Ia tidak lagi semata mengiringi ritual adat atau hajatan desa, melainkan hadir berdampingan dengan gitar elektrik dan tata cahaya modern. Di tengah arus digital yang deras, bunyi tradisional itu justru menemukan ruang baru untuk bernafas.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari geliat kesenian daerah yang mencoba beradaptasi tanpa tercerabut dari akar. Di Madura, salah satu contoh yang sering disebut adalah komunitas kreatif sekaligus grup musik bernama Kasokan. Bukan grup musik sih (Lebih pada keluarga), namun biar gampang untuk penyebutan selanjutnya saja kita sebut saja komunitas. Melalui pendekatan kontemporer, mereka memperlihatkan bagaimana tradisi dapat dirawat sekaligus ditafsir ulang.
Gamelan Madura dan Jejak Sosialnya
Gamelan Madura selama ini lekat dengan perayaan adat, karapan sapi, hingga ritual keagamaan yang tumbuh di masyarakat pesisir. Irama yang tegas dan dinamis merefleksikan karakter sosial yang lugas serta ritme hidup yang keras di wilayah kepulauan tersebut. Dalam konteks itu, gamelan bukan sekadar alat musik, melainkan bagian dari struktur makna kolektif.
Seiring perubahan sosial dan migrasi generasi muda ke kota-kota besar, ruang tampil gamelan tradisional kian terbatas. Hajatan adat tidak lagi seramai dahulu, sementara selera hiburan bergeser ke musik populer global. Akibatnya, sebagian kelompok gamelan bertahan dengan jadwal pentas musiman dan dukungan terbatas.
Di sinilah muncul kebutuhan akan pembacaan baru terhadap tradisi. Jika gamelan hanya diposisikan sebagai peninggalan masa lalu, maka jarak dengan generasi muda akan semakin lebar. Namun ketika ia ditempatkan sebagai sumber inspirasi yang lentur, kemungkinan pertemuan dengan selera masa kini menjadi terbuka.
Kasokan dan Nafas Baru Identitas Lokal
Didirikan pada 2019 di Bangkalan, Kasokan lahir dari kegelisahan sejumlah pegiat budaya terhadap memudarnya ruang ekspresi lokal. Mereka tidak sekadar membentuk grup musik, tetapi komunitas kreatif yang menjadikan budaya Madura sebagai fondasi eksplorasi. Tujuannya bukan mengganti tradisi, melainkan memberi nafas baru pada identitas yang telah lama hidup.
Melalui album Nata Abâ’ mereka belakangan ini, bahasa Madura digunakan sebagai medium utama dengan pesan moral dan spiritual yang dekat dengan keseharian masyarakat. Lagu seperti Ngemodhi Lalampa memadukan unsur kejhung dengan aransemen modern, sehingga terdengar akrab sekaligus segar. Strategi ini memperlihatkan bahwa bahasa daerah dan bunyi tradisional dapat berdialog dengan selera kontemporer tanpa kehilangan wibawa.
Upaya tersebut diperluas lewat inisiatif Ritmik Madura, sebuah gerakan kolaborasi lintas seniman yang merawat ritme budaya di berbagai ruang. Acara itu menghadirkan musisi, penyair, hingga perupa dalam satu panggung yang sama. Tradisi tidak lagi dipagari sebagai wilayah eksklusif, melainkan dibuka sebagai ruang pertemuan kreatif.
Pendekatan Kasokan menunjukkan perubahan cara pandang terhadap pelestarian. Pelestarian tidak selalu berarti membekukan bentuk lama, tetapi menjaga ruh dan nilai sambil mengizinkan bentuknya berkembang. Di titik ini, gamelan Madura tidak diperlakukan sebagai artefak museum, melainkan sebagai sumber bunyi yang terus bergerak.
Tradisi, Komersialisasi, dan Tantangan Masa Depan
Tentu saja, pertemuan antara tradisi dan industri kreatif tidak lepas dari perdebatan. Ada kekhawatiran bahwa sentuhan modern akan mengaburkan keaslian dan mengubah makna sakral menjadi sekadar tontonan. Di sisi lain, tanpa inovasi, tradisi berisiko terpinggirkan dalam lanskap hiburan yang semakin kompetitif.
Kasus Kasokan memperlihatkan negosiasi yang berlangsung di ruang publik. Mereka memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menjangkau audiens lebih luas, namun tetap mempertahankan bahasa serta simbol lokal sebagai inti karya. Di sinilah terlihat relasi sebab dan akibat antara teknologi dan keberlanjutan budaya.
Ketika video pertunjukan tersebar secara daring, gamelan Madura menjangkau generasi yang mungkin belum pernah menyaksikannya secara langsung. Respons publik yang positif menciptakan ruang apresiasi baru sekaligus peluang ekonomi bagi para pelaku seni. Namun tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan integritas budaya.
Kolom Sorot menempatkan dinamika tradisi hari ini dalam kerangka makna budaya, bukan sekadar peristiwa yang lewat. Denting gamelan Madura yang bergaung bersama aransemen modern menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu kalah oleh zaman. Ia bisa beradaptasi, bernegosiasi, bahkan memimpin percakapan tentang identitas di tengah modernitas.
Pada akhirnya, keberlanjutan gamelan Madura tidak hanya ditentukan oleh satu komunitas atau satu panggung. Ia bergantung pada kesediaan masyarakat untuk melihat tradisi sebagai praktik hidup yang relevan, bukan sekadar simbol nostalgia. Di antara denting logam dan riuh teknologi, masa depan budaya Madura sedang ditulis ulang dengan cara yang lebih terbuka dan reflektif.*
Penulis: AHe #Gamelan_Madura #Budaya_Nusantara #Kasokan_Bangkalan #Musik_Tradisional_Modern #Pelestarian_Budaya
