Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Telisik Tradisi Khataman Lemabelles dan Sagemi’an di Madura saat Ramadhan

Sate ayam bakar berwarna keemasan tersaji di atas daun pisang hijau tradisional
Ilustrasi sate tersaji di atas daun pisang hijau tradisional khas kuliner untuk hidanga saat khataman Al Quran Lemabellesan dan Sagemi'an di Madura. (Gambar oleh พรพิมล หิรัญ dari Pixabay)

Sastranusa.id - Ramadhan di Madura tidak hanya diisi oleh lantunan ayat suci, tetapi juga oleh ritme sosial yang menautkan ibadah dengan kebersamaan. Di tengah malam-malam tarawih, dikenal tradisi Khataman Lemabelles dan Sagemi’an, dua penanda waktu yang menghadirkan Khatmil Quran pada hari kelima belas dan kedua puluh lima puasa. Tradisi ini bukan hanya penjadwalan bacaan, melainkan cara masyarakat menandai perjalanan spiritual secara kolektif.

Lemabelles merujuk pada angka lima belas, sementara Sagemi’an menunjuk pada dua puluh lima. Pada dua momentum itu, bacaan Al Quran ditamatkan dalam suasana khidmat di surau atau langgar kampung. Seusai doa yang dipimpin oleh kiai sepuh, ruang ibadah berubah menjadi ruang perjamuan yang sederhana namun sarat makna.

Hidangan yang tersaji kerap berupa sate dengan nasi, kadang ditambah ayam atau telur. Yang menarik, nasi dan sate tersebut bukan berasal dari satu dapur, melainkan hasil kumpulan masing-masing warga yang membawanya ke langgar. Setiap orang menyumbang sebagian, lalu semuanya duduk setara menikmati hasil kebersamaan.

Di titik ini, Lemabelles dan Sagemi’an melampaui fungsi seremonial. Khataman bukan hanya peristiwa religius yang selesai pada doa penutup, melainkan jembatan menuju solidaritas sosial. Ayat-ayat yang dibaca bertransformasi menjadi energi yang menggerakkan tangan untuk berbagi.

Tradisi ini menunjukkan bahwa spiritualitas dalam masyarakat Madura tidak berdiri di ruang hampa. Tetapi, selalu berdampingan dengan praktik sosial yang konkret, termasuk makan bersama. Ibadah yang sakral tidak menjauh dari kehidupan sehari-hari, justru menyatu dalam bentuk yang akrab dan membumi.

Sate dan nasi yang dikumpulkan bersama memiliki dimensi simbolik yang kuat. Setiap tusuk sate dan setiap bungkus nasi adalah tanda partisipasi, sekaligus pernyataan bahwa keberkahan tidak dimonopoli oleh segelintir orang. Dalam praktik ini, kepemilikan pribadi melebur menjadi milik bersama tanpa kehilangan identitas asalnya.

Menariknya, yang ikut makan bukan hanya mereka yang rutin tadarus setiap malam. Warga yang sekadar mengikuti tarawih pun turut duduk dalam lingkaran yang sama. Hal ini memperlihatkan bahwa tradisi membuka ruang inklusif, tidak membatasi kebersamaan pada tingkat kesalehan tertentu.

Di tengah kecenderungan masyarakat modern yang sering mengukur partisipasi dengan kontribusi formal, Lemabelles dan Sagemi’an menawarkan perspektif berbeda. Kemudian kehadiran sudah dianggap cukup untuk menjadi bagian dari kebersamaan. Tradisi ini menolak logika eksklusivitas dan memilih jalan penerimaan.

Ada pula dimensi waktu yang menarik untuk ditafsirkan. Hari kelima belas dan kedua puluh lima berada di ambang peralihan, seolah menjadi jembatan antara awal, pertengahan, dan akhir Ramadhan. Momentum tersebut mengingatkan bahwa perjalanan spiritual tidak pernah datar, melainkan berlapis dan bertahap.

Dalam konteks perubahan zaman, pertanyaan tentang keberlanjutan tradisi menjadi relevan. Generasi muda tumbuh di tengah arus digitalisasi dan mobilitas tinggi yang sering kali menjauhkan dari langgar kampung. Namun justru di situlah tantangan sekaligus peluang muncul, apakah tradisi ini mampu beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya.

Lemabelles dan Sagemi’an sejatinya tidak bergantung pada kemegahan fasilitas. Ia bertumpu pada kesediaan warga untuk berkumpul dan berbagi. Selama nilai itu terjaga, bentuk luarnya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi zaman.

Ada ketegangan halus antara sakralitas dan kemungkinan komersialisasi. Di beberapa tempat, tradisi keagamaan kerap berubah menjadi ajang pamer atau kompetisi sosial. Namun dalam praktik Lemabelles dan Sagemi’an yang sederhana, sakralitas dijaga melalui kesahajaan dan kesetaraan.

Tradisi ini juga menyimpan memori kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yaitu, anak-anak yang melihat orang tua membawa nasi dan sate ke langgar akan menyerap pesan bahwa ibadah selalu memiliki dimensi sosial. Ingatan itu kelak menjadi fondasi identitas yang tidak mudah tercerabut.

Dalam lanskap Nusantara yang kaya tradisi Ramadhan, Lemabelles dan Sagemi’an memperlihatkan corak khas Madura. Ia menegaskan bahwa Islam sebagai agama hadir dalam wajah yang beragam sesuai konteks budaya. Keberagaman itu bukan penyimpangan, melainkan kekayaan tafsir yang memperluas pemahaman tentang kemanusiaan.

Pada akhirnya, khataman dalam tradisi ini bukan hanya tentang menyelesaikan bacaan tiga puluh juz. Ia adalah simbol upaya menyempurnakan relasi, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama. Ayat yang ditamatkan menemukan gema sosialnya dalam suapan nasi yang dinikmati bersama.

Dalam hal ini, Sastranusa.id ingin menempatkan tradisi sebagai ruang tafsir dan perenungan, bukan sekadar warisan yang dipamerkan. Lemabelles dan Sagemi’an memperlihatkan bahwa di antara ayat dan hidangan, tersimpan filsafat hidup tentang kebersamaan yang tidak gaduh namun kokoh. Di tengah perubahan zaman yang cepat, barangkali justru kesederhanaan semacam inilah yang layak direnungkan kembali sebagai penanda arah dalam merawat identitas dan kemanusiaan.*

Penulis: AHe #Khataman_Lemabelles #Sagemian #Ramadhan_di_Madura #Tradisi_Madura #Langgar_dan_Surau #Esai_Budaya #Tradisi_Madura

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad