![]() |
| Di tepi pantai ini, aku kembali belajar pada ombak: jatuh bukan akhir, hanya jeda untuk pulang dengan hati yang lebih tenang. (SASTRANUSA) |
SASTRANUSA - Sering kali kita berdiri di tepi pantai bukan untuk merayakan kebebasan, melainkan untuk melarikan diri dari kebisingan diri yang tidak pernah menemukan titik temu. Hal itu menghadirkan kesadaran bahwa laut bukan sekadar bentang air, melainkan sebuah ruang luas di mana konflik antara hasrat manusia dan ketenangan alam semesta saling berbenturan.
Saat memandang ombak yang datang silih berganti, aku teringat kembali pada diktum kearifan Madura ajãr ka ombã', rammi, kén dãlem, yang menekankan pentingnya memiliki kedalaman di tengah riuh rendahnya kehidupan. Namun, di balik keindahan filosofi itu, tersimpan sebuah konflik eksistensial yang tajam mengenai cara manusia mempertahankan kedalaman jiwa saat dunia menuntutnya untuk terus menjadi buih di permukaan.
Persoalan ini membawa kita pada pemikiran sosiolog Hartmut Rosa mengenai alienasi, di mana manusia modern sering kali merasa terasing dari dirinya sendiri karena gagal menciptakan resonansi dengan ritme alam. Kesenjangan antara harapan batin dan realitas sosial inilah yang kemudian menjadi medan tempur pertama bagi setiap individu yang mencoba hidup dengan penuh kesadaran.
Konflik Disonansi antara Kecepatan Dunia dan Keteguhan Jiwa
Meski dunia hari ini memuja kecepatan sebagai kasta tertinggi dalam kesuksesan, namun dalam relung batin, hal itu sering kali menciptakan disonansi kognitif yang sangat menyakitkan. Hal itu terlihat dari bagaimana kita dipaksa untuk bergerak secepat algoritma, sementara nurani kita merindukan ketenangan seperti dasar samudra yang tidak pernah terjamah badai.
Dalam kacamata Teori Akselerasi Sosial, konflik ini muncul karena adanya ketimpangan yang lebar antara waktu teknis yang mekanis dan waktu organik yang alami. Identitas itu, pasalnya mulai terasa retak ketika kita mencoba menjadi ombak yang selalu ingin mencapai daratan dengan tergesa-gesa namun kehilangan kekuatan untuk kembali ke tengah.
Narasi konflik ini mewujud dalam kecemasan harian, di mana kita merasa gagal jika tidak menghasilkan sesuatu yang instan dalam waktu singkat. Padahal ombak mengajarkan bahwa karang yang paling keras sekalipun hanya bisa dibentuk oleh ketekunan yang memakan waktu hingga berabad-abad lamanya.
Percepatan yang dipaksakan ini lambat laun mengikis kemampuan kita untuk merasakan kebahagiaan yang subtil dalam keseharian. Contoh narasinya muncul saat seseorang merasa terhimpit oleh ekspektasi sosial untuk selalu tampil sukses di permukaan layaknya buih putih yang mencolok namun rapuh.
Di satu sisi, ia ingin menjaga kedalaman batinnya, namun di sisi lain ketakutan akan tertinggal oleh kecepatan zaman membuatnya terus memaksakan diri. Perpaduan antara ambisi yang membara dan kelelahan mental ini menciptakan nada sumbang dalam simfoni kehidupan yang membuat kita sering kali merasa kosong.
Nah, dari sinilah kita belajar bahwa konflik batin ini hanya bisa diredam jika kita berani melepaskan obsesi terhadap hasil akhir yang semu. Kita harus mulai menghargai setiap detik proses sebagai bagian penting dari pendewasaan jiwa yang tidak mungkin bisa dipaksakan atau dipercepat secara mekanis.
Kesabaran bukan lagi sekadar tindakan menunggu, melainkan sebuah bentuk perlawanan terhadap budaya serba instan yang terus menggerus nilai kemanusiaan kita. Dengan memperlambat tempo, kita sebenarnya sedang memberi ruang bagi jiwa untuk mengejar tubuh yang sering kali berlari terlalu jauh di depan.
Paradoks Alienasi di Tengah Riuhnya Permukaan
Begitu juga dengan konflik yang lahir dari keinginan untuk diakui oleh dunia luar, yang sering kali justru menjauhkan kita dari kebenaran batiniah. Hal itu menyiratkan adanya gejala alienasi atau keterasingan diri sebagaimana dijelaskan oleh Karl Marx mengenai hilangnya hubungan individu dengan esensi keberadaannya sendiri.
Dalam konteks filosofi ombak, banyak dari kita yang terjebak menjadi ramai secara eksternal namun tetap merasa sunyi secara internal. Kondisi tersebut membuat hidup terasa seperti panggung sandiwara yang melelahkan, di mana kita sibuk membangun suara-suara bising agar tidak dianggap sepi.
Kita sering kali merasa perlu untuk terus berteriak di ruang publik digital demi sebuah validasi yang sebenarnya bersifat sangat fana. Namun dalam prosesnya, kita kehilangan kemampuan untuk mendengarkan bisikan jujur dari palung hati yang paling dalam dan tersembunyi.
Konflik ini diperparah oleh budaya visual yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna tanpa cela di hadapan mata orang lain. Akibatnya, ruang untuk mengakui kerapuhan dan melakukan refleksi diri menjadi sesuatu yang sangat terpinggirkan dari arus utama kehidupan modern.
Narasi konflik ini sering kali dialami oleh para pencari makna yang merasa bahwa nilai-nilai idealis mereka tidak lagi laku di pasar kenyataan. Mereka berdiri di persimpangan jalan, apakah harus menyerah pada tuntutan tren agar tetap relevan atau tetap mempertahankan kedalaman nilai meski harus menanggung risiko kesepian.
Dilema ini bukan hanya soal pilihan karier, melainkan soal integritas roh yang terus-menerus diuji oleh gelombang konsumerisme yang sangat dangkal. Tekanan yang kuat untuk terus berseragam dalam pemikiran sering kali mematikan keunikan individu yang seharusnya menjadi warna dalam luasnya samudra kehidupan.
Nah, dari ketegangan itulah lahir sebuah kebuntuan eksistensial yang mematikan resonansi jiwa, di mana individu merasa menjadi asing di rumahnya sendiri. Kemudian konflik ini memaksa kita untuk belajar membisu secara strategis dengan meredam suara-suara ego yang selalu haus akan pengakuan dunia.
Identitas itu, pasalnya hanya bisa tumbuh dengan sehat jika didasarkan pada kejujuran batin, bukan pada riuh rendahnya tepuk tangan penonton. Kesetiaan pada palung hati yang dalam akan memberikan ketenangan yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh kebisingan permukaan yang mudah berubah-ubah.
Ketundukan pada Waktu dan Resolusi Konflik Ego
Perpaduan antara hasrat untuk menguasai keadaan dan kenyataan bahwa kita hanyalah bagian kecil dari semesta sering kali memicu konflik otoritas dalam diri. Hal itu terlihat saat kita mencoba melawan arus takdir atau musim kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi kita yang sempit.
Perlawanan tersebut, dalam teori psikologi sering disebut sebagai bentuk penolakan terhadap realitas yang akhirnya hanya akan memicu penderitaan yang lebih dalam. Ombak mengajarkan ketundukan yang aktif, yakni kesediaan untuk bergerak mengikuti ritme pasang surut tanpa kehilangan integritas diri sebagai elemen air.
Namun bagi manusia yang egonya terlalu besar, ketundukan sering kali dianggap sebagai kelemahan atau bentuk kekalahan yang sangat memalukan. Padahal dalam ketundukan itulah tersimpan kekuatan sejati untuk bertahan hidup melewati badai yang paling besar dan menghancurkan sekalipun.
Konflik ini menuntut kita untuk melakukan redefinisi atas makna kemenangan, dari yang semula bersifat penaklukan luar menjadi penguasaan atas gejolak batin sendiri. Kita harus belajar bahwa tidak semua hal dalam hidup ini dapat dikendalikan atau diubah hanya dengan kekuatan kehendak manusia semata.
Seorang individu mungkin merasakan konflik ini saat ia kehilangan sesuatu yang sangat ia cintai, layaknya air yang pecah menjadi buih lalu terserap pasir. Di titik itu, ia akan berjuang melawan rasa sakit dan ketidakinginan untuk melepaskan yang sebenarnya merupakan bagian dari perjalanan jiwa.
Lalu dalam kesunyian di tepi pantai, ia perlahan menyadari bahwa segala sesuatu yang datang pasti akan menemukan jalannya untuk kembali ke asal. Kesadaran ini adalah langkah awal menuju resolusi konflik batin yang selama ini menghimpit ruang gerak energinya dalam menjalani keseharian.
Nah, dari kesadaran itulah kita belajar bahwa ketenangan tidak ditemukan dalam perlawanan yang membabi buta terhadap kenyataan hidup. Keberanian sejati adalah kemampuan untuk tetap bergerak maju meski kita sadar bahwa kita tidak memiliki kendali penuh atas segala peristiwa di bawah langit.
Kesadaran ini membebaskan kita dari beban berat untuk selalu menjadi penguasa nasib dan membiarkan kita menjadi bagian dari tarian alam yang agung. Ketika ego mulai mengecil, ruang bagi kedalaman makna justru akan terbuka lebar mengalirkan kebijaksanaan yang selama ini tersumbat oleh kesombongan diri.
Menemukan Titik Temu di Kedalaman Palung
Perjalanan menuju kedalaman memang bukan perjalanan yang populer, karena ia menuntut keberanian untuk menghadapi kegelapan dan kesunyian di dalam diri. Hal itu menunjukkan bahwa konflik antara permukaan dan palung adalah bagian dari dialektika yang tidak akan pernah selesai selama manusia masih bernapas.
Namun justru dalam tegangan itulah manusia menemukan dinamika yang membuatnya terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan matang. Keindahan ombak bukanlah terletak pada buihnya yang putih di permukaan, melainkan pada volume air yang mendukung buih itu dari kedalaman.
Begitu juga dengan keberadaan kita, di mana keriuhan di luar seharusnya disangga oleh ketenangan dan prinsip yang sangat kuat di dalam batin. Identitas itu, pasalnya tidak boleh hanya dibangun dari material yang mudah pecah, melainkan dari kedalaman pengalaman dan kontemplasi yang panjang.
Tanpa kedalaman, keriuhan kita hanya akan menjadi polusi suara bagi semesta yang sudah terlalu bising dengan segala macam kepentingan. Namun dengan kedalaman, setiap tindakan dan ucapan kita akan menjadi melodi yang menyembuhkan bagi jiwa-jiwa lain yang sedang haus akan ketenangan.
Nah, dari pemahaman inilah kita mulai mampu melihat bahwa konflik bukanlah musuh yang harus dibasmi, melainkan kawan yang menunjukkan posisi kita. Konflik adalah kompas yang mengarahkan kita untuk kembali menyelami palung kesadaran saat kita sudah terlalu lama terapung di permukaan yang dangkal.
Hari ini, saat aku perlahan berjalan meninggalkan garis pantai dengan jejak kaki yang perlahan dihapus air, ada rasa damai yang lahir. Kalimat dari orang bijak Madura tentang ombak itu kini tidak lagi terdengar sebagai pepatah sederhana, melainkan sebagai sebuah manual untuk bertahan hidup.
Ilmu yang tampak kecil itu kini berubah menjadi jangkar yang menjaga agar jiwaku tidak hanyut oleh arus bising yang sangat dangkal. Aku mulai belajar untuk tetap merayakan keriuhan dunia dengan hati yang tetap tinggal menetap di kedalaman palung kesunyian batiniah yang jernih.
Seolah-olah dengan menerima setiap konflik sebagai bagian dari melodi, aku memahami bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang berani menyelami penderitaan. Dan aku tahu bahwa setiap kali badai ego mulai berkecamuk, aku akan selalu kembali ke laut untuk diingatkan tentang hakikat menjadi manusia.
Menjadi ramai itu perlu untuk saling berbagi warna kehidupan, namun menjadi dalam adalah syarat mutlak untuk tetap hidup sebagai manusia yang utuh. Di bawah langit yang kian menjauh, melodi ombak tetap terdengar sebagai pengingat abadi bahwa selalu tersedia kedalaman bagi jiwa yang bersedia mendengarkan.
Penulis: AHe
#Kedalaman_Batin #Disonansi_Kecepatan #Alienasi_Ego #Resolusi_Konflik #Palung_Kesadaran_Batin
