Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Tradisi Lisan di Pinggir Layar: Tafsir atas Ingatan yang Tak Ramah Algoritma

Upacara adat Bali di Pura dengan persembahan di kepala, latar Gunung Agung berkabut
Persembahan adat Bali di pura suci, Gunung Agung berkabut jadi latar spiritual nan indah. (Gambar oleh Agung Atmaja dari Pixabay)

Sastranusa.id - Di Nusantara, ingatan tidak selalu disimpan dalam arsip tertulis atau museum sunyi. Ia hidup dalam tutur, dalam suara yang diwariskan dari mulut ke telinga, dari generasi ke generasi, sering kali tanpa jejak selain ingatan kolektif. Tradisi lisan, dalam pengertian ini, bukan sekadar cara bercerita, melainkan cara suatu masyarakat memahami dunia, menata nilai, dan merawat hubungan dengan yang lampau sekaligus yang gaib.

Tradisi lisan mencakup pantun, mantra, petuah adat, hikayat, tembang, hingga cerita rakyat yang menyatu dengan ritus dan keseharian. Di dalamnya terkandung pandangan hidup, etika sosial, dan kosmologi lokal yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa ringkas. Keberadaannya bergantung pada perjumpaan langsung, pada kesediaan mendengar, dan pada waktu yang mengalir perlahan.

Namun lanskap kebudayaan hari ini bergerak di bawah logika yang berbeda. Media sosial, dengan algoritmanya, mengatur apa yang tampak, apa yang disukai, dan apa yang dianggap relevan. Di sinilah terjadi pergeseran yang sunyi tetapi menentukan: ingatan yang berbasis tutur berhadapan dengan sistem yang bekerja atas dasar klik, durasi tonton, dan kecenderungan konsumsi.

Tradisi Lisan sebagai Ingatan yang Bernapas

Tradisi lisan tidak pernah berdiri netral. Ia selalu terikat pada ruang, situasi, dan relasi sosial tertentu. Sebuah mantra penyembuhan, misalnya, tidak hanya berisi rangkaian kata, tetapi juga kepercayaan pada kekuatan bunyi, ritme, dan niat yang diucapkan dalam konteks tertentu.

Makna tradisi lisan sering kali bersifat simbolik dan berlapis. Cerita rakyat tentang asal-usul suatu tempat bukan hanya penjelasan mitologis, melainkan penanda relasi manusia dengan alam dan sejarah lokalnya. Dalam tradisi lisan, bahasa menjadi rumah nilai, bukan sekadar alat komunikasi.

Keberlanjutan tradisi semacam ini bergantung pada kontinuitas relasi antargenerasi. Ia tidak dapat dipercepat tanpa kehilangan makna, dan tidak dapat dipadatkan tanpa mereduksi kedalaman. Di sinilah ketegangan mulai tampak ketika tradisi lisan memasuki ruang digital.

Algoritma dan Tata Lihat Budaya Kontemporer

Algoritma media sosial bekerja dengan prinsip seleksi otomatis berdasarkan pola perilaku pengguna. Konten yang sering ditonton, dibagikan, atau diberi reaksi akan terus didorong ke permukaan. Yang lambat, panjang, dan menuntut perhatian cenderung tersingkir oleh yang ringkas, sensasional, dan mudah dicerna.

Dalam mekanisme ini, algoritma bukan sekadar alat teknis, melainkan pembentuk selera kolektif. Ia mengarahkan perhatian, menentukan ritme konsumsi, dan secara tidak langsung membingkai apa yang dianggap penting. Budaya, dalam konteks ini, dihadapkan pada logika pasar perhatian.

Tradisi lisan, dengan durasi panjang dan konteks sakral, sering kali tidak selaras dengan logika tersebut. Sebuah kisah tutur yang memerlukan kesabaran kalah bersaing dengan potongan video singkat yang menawarkan hiburan instan. Algoritma tidak secara sadar menyingkirkan tradisi, tetapi ketidakcocokan struktur membuatnya terpinggirkan.

Ketika Tutur Menjadi Konten

Upaya membawa tradisi lisan ke media sosial sering kali dilakukan dengan niat pelestarian. Namun proses ini tidak bebas dari konsekuensi. Ketika mantra, tembang, atau cerita rakyat dipotong, dipoles, dan dikemas ulang demi visibilitas, terjadi pergeseran makna yang halus.

Sakralitas tradisi berhadapan dengan komersialisasi. Yang semula hidup dalam ruang ritual berubah menjadi tontonan yang terlepas dari konteks. Tradisi lisan direduksi menjadi konten, dinilai dari jumlah penonton, bukan dari kedalaman makna.

Di sisi lain, generasi muda tumbuh dalam ruang digital yang menuntut kehadiran cepat dan ekspresif. Ketertarikan pada tradisi sering kali harus bernegosiasi dengan format yang tersedia. Di sini muncul dilema: antara menjaga keutuhan makna dan menjangkau khalayak baru.

Algoritma, dalam posisinya, tidak menyediakan ruang bagi keheningan, jeda, dan proses. Ia tidak mengenali nilai yang tidak terukur secara statistik. Akibatnya, tradisi lisan yang hidup dari pengulangan dan perenungan menjadi semakin asing dalam lanskap budaya populer.

Menjaga Ingatan di Tengah Arus

Tradisi lisan tidak selalu membutuhkan panggung besar untuk bertahan. Ia membutuhkan ruang yang memungkinkan perjumpaan bermakna. Tantangan hari ini bukan sekadar soal visibilitas, melainkan soal cara memahami kembali nilai lambat di tengah budaya serba cepat.

Algoritma dapat menjadi alat, tetapi tidak dapat menjadi penentu tunggal arah kebudayaan. Kesadaran kolektif tentang pentingnya konteks, etika, dan kedalaman menjadi kunci agar tradisi tidak sekadar bertahan sebagai artefak digital. Di sinilah peran refleksi budaya menjadi penting.

Masa depan tradisi lisan mungkin tidak terletak pada penolakan teknologi, melainkan pada sikap kritis terhadapnya. Selama tradisi ditempatkan sebagai ruang tafsir dan perenungan, bukan sekadar materi tontonan, ingatan kolektif Nusantara masih memiliki kemungkinan untuk bernapas, meski di pinggir layar yang terus bergerak.*

Penulis: AHe #Tradisi_Lisan #Budaya_Nusantara #Algoritma_Media_Sosial #Identitas_Budaya #Budaya_Digital #Refleksi_Budaya

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad