![]() |
| Ilustrasi warga desa di Madura mengucapkan permisi saat melewati tempat yang dipercaya angker dalam tradisi Sé' Ngisé'. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Sastranusa.id) |
Sastranusa.id, Madura - Tradisi Sé' Ngisé' dikenal dalam kehidupan masyarakat Madura sebagai kebiasaan mengucapkan permisi ketika melewati tempat yang dipercaya memiliki aura angker. Praktik ini masih dijumpai di sejumlah wilayah pedesaan, termasuk di Kampung Lémbung, Desa Plajaran, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang. Kebiasaan tersebut diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari etika berinteraksi dengan ruang yang dianggap memiliki penghuni tak terlihat.
Dalam praktik keseharian masyarakat, Sé' Ngisé' dilakukan ketika seseorang melewati tempat tertentu yang dikenal memiliki cerita atau keyakinan khusus. Tempat-tempat tersebut biasanya berupa pohon tua, persimpangan jalan, atau area yang sejak lama dipercaya memiliki kekuatan gaib. Saat melintas di tempat seperti itu, masyarakat setempat mengucapkan kata tertentu sebagai bentuk permisi.
Menurut Hasip, salah seorang sesepuh Kampung Lémbung, tradisi ini masih dikenal oleh masyarakat setempat hingga sekarang. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang melewati tempat yang dianggap angker, masyarakat biasanya mengucapkan kata “Glãnun” yang dalam pemahaman setempat berarti permisi. Ucapan tersebut menjadi bentuk sopan santun terhadap makhluk tak kasat mata yang diyakini menempati tempat tersebut.
Tradisi Lisan yang Hidup dalam Kehidupan Sehari-hari
Tradisi Sé' Ngisé' tidak hadir dalam bentuk upacara besar atau ritual yang rumit. Kebiasaan ini justru hidup dalam praktik keseharian masyarakat ketika mereka berjalan di lingkungan sekitar desa. Ucapan permisi tersebut biasanya diucapkan secara singkat sebelum seseorang melintas di area yang dianggap memiliki penghuni gaib.
Dalam kehidupan masyarakat Madura, ruang alam sering kali dipahami tidak hanya sebagai tempat fisik semata. Berbagai lokasi tertentu dipercaya memiliki sejarah, cerita rakyat, atau pengalaman spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Keyakinan semacam ini kemudian membentuk cara masyarakat memperlakukan ruang di sekitarnya.
Ucapan “Glãnun” dalam tradisi Sé' Ngisé' dapat dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap ruang tersebut. Masyarakat tidak selalu melihat praktik ini sebagai ritual keagamaan, melainkan sebagai kebiasaan sosial yang berkaitan dengan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu, hubungan antara manusia dan lingkungan sekitarnya dipelihara melalui sikap saling menghormati.
Dalam banyak kasus, kebiasaan ini diajarkan secara tidak langsung oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Ketika anak-anak berjalan bersama orang tua melewati tempat tertentu, mereka sering mendengar ucapan permisi tersebut. Dari situ, generasi muda mulai mengenal tradisi yang telah hidup lama dalam kehidupan masyarakat.
Kepercayaan Lokal dan Ingatan Kolektif
Dalam sejarah kehidupan masyarakat Nusantara, berbagai tradisi sering kali tumbuh dari pertemuan antara kepercayaan lokal, pengalaman sosial, serta cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tradisi Sé' Ngisé' dapat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya tersebut. Praktik ini memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun hubungan simbolik dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Cerita mengenai tempat-tempat angker biasanya berkembang melalui pengalaman kolektif masyarakat. Kisah-kisah tersebut tidak selalu tercatat dalam bentuk tulisan, tetapi tetap hidup melalui cerita lisan yang terus disampaikan. Dengan demikian, kepercayaan terhadap ruang tertentu menjadi bagian dari memori sosial masyarakat.
Dalam konteks ini, tradisi Sé' Ngisé' berfungsi sebagai cara sederhana untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan sekitarnya. Meskipun tidak semua orang memahami keyakinan tersebut dengan cara yang sama, kebiasaan mengucapkan permisi tetap dipertahankan sebagai bagian dari etika lokal. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi sering kali bertahan melalui kebiasaan kecil yang terus diulang dalam kehidupan sehari-hari.
Di sejumlah desa di Madura, praktik semacam ini juga menjadi bagian dari cara masyarakat menafsirkan ruang dan sejarah tempat tinggal mereka. Setiap lokasi yang dianggap memiliki cerita tertentu biasanya diperlakukan dengan sikap yang lebih hati-hati. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat menghormati memori yang melekat pada ruang tersebut.
Tradisi yang Bertahan di Tengah Perubahan
Perubahan sosial dan perkembangan teknologi dalam kehidupan modern membawa berbagai pergeseran dalam cara masyarakat memandang tradisi. Namun beberapa kebiasaan lokal tetap bertahan karena dianggap sebagai bagian dari identitas budaya. Tradisi Sé' Ngisé' termasuk salah satu contoh praktik yang masih dikenal oleh masyarakat hingga sekarang.
Menurut penuturan warga setempat, kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleh generasi tua. Anak-anak muda di Kampung Lémbung juga masih mengenal dan mempraktikkannya ketika melewati tempat tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Meskipun sebagian masyarakat memaknai praktik ini sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan lama, sebagian lainnya melihatnya sebagai bagian dari adat sopan santun terhadap lingkungan. Perbedaan cara pandang tersebut tidak serta-merta menghilangkan kebiasaan yang telah lama hidup dalam masyarakat. Justru dari keberagaman tafsir itulah tradisi tetap bertahan.
Tradisi Sé' Ngisé' memperlihatkan bahwa memori budaya sering kali tersimpan dalam tindakan sederhana yang dilakukan secara berulang. Ucapan permisi yang diucapkan ketika melewati tempat tertentu menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan lingkungan yang memiliki sejarah panjang. Dalam praktik tersebut, masyarakat tidak hanya menjaga hubungan sosial antarwarga, tetapi juga merawat hubungan simbolik dengan ruang tempat mereka hidup.
Kolom Jejak di Sastranusa.id ingin merawat ingatan tradisi Sé' Ngisé' sebagai bagian dari perjalanan panjang budaya, bukan sekadar cerita masa lalu.*
Penulis: AHe #Tradisi_Madura #Budaya_Madura #Tradisi_Jrengik #Kearifan_Lokal #Tradisi_Nusantara
