Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Buih Retorika: Menakar Jarak Pembicaraan dengan Langkah

Cangkir kopi di tempat kerja dengan mesin packing plastik di sampingnya, menggambarkan proses, kerja kecil, dan langkah-langkah konsisten dalam aktivitas harian.
Aku menulis tentang istiqomah ini sebelum memulai beraktivitas (SASTRANUSA)

SASTRANUSA - Ada masa ketika perjalanan terasa panjang dan langkah terasa berat seperti menanggung beban yang tak terlihat di pundak sendiri. Hal itu menghadirkan kesadaran bahwa beban batin sering kali lebih melelahkan daripada beban fisik, yaitu, menguji sejauh mana kita mampu bertahan.

Namun jauh di dalam hati, ada bisikan lembut bahwa sesuatu akan tumbuh dari ketekunan yang dijalani hari demi hari. Keyakinan itu sederhana namun kuat, yakni suatu saat nanti istiqomah akan membuahkan hasil yang setimpal bagi pelakunya yang terus bergerak.

Sering kali yang membuat kita berhenti bukanlah kegagalan besar yang menghantam secara tiba-tiba, melainkan rasa jenuh yang datang merayap. Rasa jenuh itu, pasalnya muncul saat hasil yang kita harapkan belum juga menampakkan wujudnya secara nyata di depan mata.

Tetapi hidup mengajarkan bahwa yang tumbuh perlahan justru memiliki akar paling kuat untuk menahan terjangan badai yang akan datang. Begitu juga dengan proses istiqomah yang diam namun bekerja dalam senyap, yakni membentuk fondasi karakter yang tidak mudah goyah oleh keadaan.

Maka perjalanan ini bukan hanya tentang mencapai tujuan akhir yang megah, melainkan tentang menjadi manusia yang lebih utuh dalam prosesnya. Nah, dari kesadaran itulah kita mulai memahami bahwa istiqomah bukan sekadar kata, melainkan sebuah laku hidup yang nyata.

Makna Istiqomah yang Sering Disalahpahami

Kadang kita memahami istiqomah sebatas penjelasan panjang yang diucapkan dengan banyak teori dan istilah-istilah yang terdengar sangat rumit di telinga. Bahkan ada yang membahasnya berjam-jam di warung kopi seolah hal itu adalah konsep yang sudah selesai hanya dengan untaian kata semata.

Namun sebenarnya istiqomah jauh lebih nyata daripada sekadar abstraksi teori yang melayang-layang tanpa memiliki pijakan bumi yang kuat untuk menopang langkah. Istiqomah hadir dalam langkah kecil yang dilakukan terus-menerus meski tidak ada satu pun pasang mata yang melihat atau memuji tindakan kita.

Identitas itu, pasalnya lahir dari latihan yang melelahkan dan memerlukan ruang lapang bagi setiap kesalahan serta perbaikan yang dilakukan secara berulang. Tidak jarang seseorang jatuh dalam prosesnya, lalu bangkit kembali dan mengulang lagi hingga pola itu akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang menetap.

Dan dari kebiasaan itulah lahir karakter yang kokoh, lalu kemudian berubah menjadi sebuah keyakinan yang matang dalam relung jiwa yang terdalam. Perpaduan antara latihan dan pengulangan memunculkan kekuatan batin yang stabil, sehingga kita tidak lagi mudah terombang-ambing oleh opini orang lain.

Dalam perjalanan ini, kesabaran menjadi sahabat terdekat yang menjaga agar api semangat kita tidak padam ditiup oleh angin keraguan yang tajam. Karena istiqomah bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis, namun tentang siapa yang tetap berjalan meski jalannya terasa sangat sunyi.

Istiqomah adalah Gerak, Bukan Menunggu

Ada yang mengira istiqomah berarti menunggu waktu terbaik atau menunggu keadaan dunia menjadi ideal bagi langkah-langkah yang akan kita ambil segera. Padahal istiqomah selalu bersanding dengan tindakan nyata, yaitu, mengharuskan kita untuk memulai meski dalam keterbatasan yang mungkin terasa menyesakkan di awal jalan.

Tidak harus besar dan tidak harus sempurna, namun langkah itu harus segera dimulai dan dijalankan dengan penuh kesadaran diri yang jernih. Hal itu terlihat dari bagaimana gerak sekecil apa pun tetap jauh lebih baik daripada diam membatu sambil terus memproduksi teori.

Mungkin langkah itu terasa sangat lambat, bahkan tampak tidak berarti di tengah arus dunia yang bergerak sangat liar dan begitu cepat. Namun langkah yang konsisten akan membentuk arah, yakni membawa kita lebih dekat pada jawaban-bowaban yang selama ini hanya tersimpan dalam tanya.

Pada akhirnya kita akan menyadari bahwa menunggu tanpa bertindak hanyalah angan-angan kosong yang menguras energi batin secara perlahan-lahan setiap harinya. Tetapi satu langkah nyata, betapapun sederhana wujudnya, adalah bentuk dari keberanian eksistensial kita untuk menyatakan kehadiran yang jujur di semesta.

Pelajaran dari Langkah Kecil

Setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan satu langkah kecil yang sering kali tidak dianggap penting oleh orang-orang yang hanya melihat hasil. Dan langkah itu, meskipun tampak sepele, memiliki makna yang mendalam ketika dilakukan dengan tujuan yang jelas dan niat yang tulus ikhlas.

Istiqomah tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah dan mulus tanpa hambatan, tetapi ia selalu memberikan ruang yang cukup bagi jiwa untuk bertumbuh. Mungkin hari ini terasa sangat berat, namun jika kita terus bergerak, maka hari esok akan terasa jauh lebih dekat.

Dan suatu saat nanti akan ada titik ketika kita menoleh ke belakang dan berkata bahwa ternyata kita sudah berjalan sejauh ini. Di situlah rasa syukur akan tumbuh mekar, yakni bukan karena hasil semata, melainkan karena proses panjang yang telah dilalui dengan ketekunan.

Ketekunan itu, pasalnya menjadi guru yang mengajarkan kita tentang arti keteguhan di tengah ketidakpastian yang sering kali menghantui setiap pikiran manusia. Kemudian kita pun menyadari bahwa setiap tetes keringat dalam proses istiqomah adalah investasi bagi kematangan jiwa kita di masa depan nanti.

Antara Bicara dan Melangkah

Pada akhirnya ada perbedaan besar antara seseorang yang hanya membicarakan istiqomah dengan seseorang yang benar-benar menjalaninya di medan laga yang nyata. Kata-kata mungkin bisa menjelaskan dengan sangat indah, tetapi langkah yang teguhlah yang memberikan bukti otentik atas sebuah kebenaran nilai tersebut.

Di antara keduanya, tentu lebih bermakna mereka yang berani melangkah satu langkah daripada mereka yang hanya mampu berbicara hingga seribu kalimat panjang. Karena istiqomah adalah tentang konsistensi yang sunyi, yaitu, sebuah laku yang tidak membutuhkan panggung megah atau tepuk tangan yang meriah.

Ia tidak memerlukan aplaus dan tidak harus dipuji oleh khalayak ramai agar tetap bisa bernapas dan bergerak maju secara mandiri. Ia hanya membutuhkan satu hal saja, yakni kesungguhan batin yang murni untuk terus melakukan satu usaha kecil setiap kali ada waktu.

Dan tanpa terasa dari perjalanan panjang yang melelahkan itu, lahirlah sosok manusia yang jauh lebih matang dan juga lebih tenang jiwanya. Ia menjadi pribadi yang lebih mengenal dirinya sendiri karena telah berhasil melewati konflik antara kemalasan dan keteguhan batin dalam dirinya.

Keindahan dari Kesabaran

Setiap orang membawa kisahnya masing-masing, dan istiqomah selalu menjadi bagian penting dari perjalanan spiritual dan mental manusia yang sangat mendalam ini. Hal itu mengajarkan kepada kita bahwa perubahan bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba, tetapi membutuhkan kehadiran, kesabaran, serta keteguhan yang luas.

Maka ketika hati mulai didera ragu, ingatlah bahwa istiqomah tidak pernah menuntut kesempurnaan tanpa cela dari setiap langkah yang pernah kita ambil. Ia hanya meminta kita untuk tidak berhenti berjalan, karena selama langkah itu masih ada, maka harapan akan tetap hidup menyala terang.

Dan pada waktunya nanti, kita akan memahami dengan jernih bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai pada tujuan yang dicita-citakan. Melainkan seberapa tulus perjalanan itu dijalani dan seberapa teguh kita berdiri di atas nilai-nilai kebenaran yang kita yakini benar adanya sekarang.

Laku istiqomah inilah yang akhirnya membedakan antara mereka yang sekadar bermimpi dengan mereka yang benar-benar membangun kenyataan di atas tanah sejarah. Nah, dari ketulusan melangkah itulah kita akan menemukan bahwa hasil setimpal bukanlah hadiah dari luar, melainkan kedamaian yang tumbuh dari dalam.

Penulis: AHe

#Istiqomah_Hidup #Langkah_Kecil #Ketekunan_Batin #Proses_Istiqomah #Kedamaian_Dalam_Batin

Baca Juga
Posting Komentar