![]() |
| Ilustrasi siswa dirawat di rumah sakit akibat keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Timur 2025-2026. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/SASTRANUSA) |
SASTRANUSA, JATIM - Kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Timur (Jatim) kembali menjadi sorotan publik, karena jumlah korban yang terus meningkat. Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan, terutama di kalangan orang tua dan pendidik.
Fenomena keracunan ini tidak hanya menimbulkan dampak kesehatan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap sistem penyediaan dan pengawasan MBG yang selama ini dianggap aman. Berbagai wilayah di Jawa Timur tercatat mengalami insiden serupa, yang menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur distribusi dan standar keamanan pangan.
Sejumlah Wilayah Terkena Dampak Keracunan MBG
Di Jatim, keracunan MBG tercatat terjadi di berbagai kabupaten dan kota sepanjang 2025 hingga awal 2026. Dampak dari insiden ini tidak hanya berupa gangguan kesehatan ringan, tetapi juga rawat inap bagi sejumlah korban. Informasi ini Tintanesia rangkum dari beberapa kejadian menonjol yang mencerminkan skala dan pola keracunan MBG di Jawa Timur.
1. Jember: Puluhan Siswa dan Guru Terkena
Di SMP Negeri 1 Umbulsari, Jember, pada Februari 2026, sebanyak 112 siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala keracunan, seperti pusing, mual, diare, dan muntah.
Dari jumlah tersebut, 15 orang harus mendapatkan perawatan intensif, karena kondisi kesehatan yang memburuk. Dalam kasus ini, Investigasi Satgas MBG menemukan adanya pelanggaran prosedur operasional standar (SOP) oleh pihak SPPG, yang diduga menjadi penyebab utama kontaminasi makanan.
Selain dampak kesehatan, kejadian ini memicu kekhawatiran orang tua dan masyarakat sekitar sekolah. Proses penyelidikan pun melibatkan berbagai pihak terkait, sehingga program MBG sementara dievaluasi untuk memastikan keamanan siswa. Tentunya peristiwa ini, menjadi peringatan penting mengenai pentingnya pengawasan ketat terhadap penyediaan makanan di sekolah.
2. Mojokerto: Ratusan Korban Mengalami Keracunan
Pada Januari 2026, Mojokerto mencatat sekitar 780 orang keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Korban tidak hanya berasal dari kalangan siswa, tetapi juga warga sekitar yang menerima makanan dari distribusi MBG.
Kondisi ini pasalnya, memicu keterlibatan Kanwil Kemenkumham Jawa Timur, guna memastikan prosedur penyediaan makanan sesuai standar kesehatan dan keselamatan.
Peristiwa tersebut menimbulkan keresahan masyarakat dan menjadi sorotan media lokal maupun nasional.
Selain itu, pihak berwenang melakukan audit terhadap dapur penyedia MBG untuk menelusuri penyebab kontaminasi. Tentunya hal itu bertujuan, agar insiden serupa tidak terulang di wilayah lain.
3. Tulungagung dan Tuban: Isu Keamanan Pangan
Di Tulungagung, Oktober 2025, 62 siswa SMPN 1 Boyolangu dilaporkan mengalami gejala keracunan. Sebanyak 38 siswa dirawat di Puskesmas setempat, setelah mengonsumsi menu MBG dari penyedia baru. Kejadian ini menunjukkan dugaan adanya ketidakpatuhan penyedia makanan terhadap standar operasional.
Sementara itu, di Tuban, laporan muncul mengenai adanya ulat dalam menu MBG, yang menambah daftar pelanggaran keamanan pangan. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa, pengawasan dan kontrol mutu makanan masih membutuhkan perbaikan.
Penyebab dan Dampak Keracunan MBG
Menurut informasi yang berhasil SASTRANUSA himpun, pakar kesehatan menyoroti, kemungkinan kontaminasi nitrat pada makanan menjadi salah satu penyebab keracunan.
Nitrat yang tinggi pasalnya, dapat menimbulkan gangguan pencernaan dan keracunan pada anak-anak maupun orang dewasa yang mengonsumsi makanan secara berlebihan.
Selain itu, pelanggaran SOP penyajian makanan menjadi faktor utama dalam insiden yang terjadi di berbagai wilayah.
Keracunan MBG menimbulkan dampak sosial yang signifikan, karena memicu protes warga dan kekhawatiran orang tua terhadap program pemerintah.
Program MBG yang semula bertujuan untuk mendukung gizi siswa, kini harus dievaluasi agar standar keamanan pangan dapat dijaga.
Selain itu, trauma psikologis juga menjadi bagian dari dampak keracunan, terutama bagi siswa yang harus dirawat di rumah sakit.
Mengacu pada kejadian itu, penanganan dan edukasi mengenai keamanan pangan seharusnya menjadi hal penting agar masyarakat tetap percaya terhadap program MBG.*
Penulis: AHe #MBG #Keracunan_MBG #Keamanan_Pangan #Program_Makanan_Bergizi #Keracunan_MBG_di_Jatim
