![]() |
| Pegiat tari, musik, paskib DELASPART7 foto bersama usai wujudkan kolaborasi budaya. (SASTRANUSA/AHe) |
SASTRANUSA, LAMONGAN - Suasana pagi Sabtu, 24 Januari 2025 di lingkungan SMA Wahid Hasyim Model Karanggeneng, Lamongan, Jawa Timur terasa berbeda ketika kegiatan pembukaan DELASPART 7 digelar. Diketahui di lapangan sekolah yang biasanya digunakan untuk aktivitas harian, berubah menjadi ruang ekspresi seni yang hidup dan penuh perhatian. Dalam momen tersebut bunyi, gerak, dan simbol menyatu sebagai penanda dimulainya agenda tahunan tersebut.
Pasalnya kegiatan pembukaan itu tidak hanya menjadi seremoni awal, tetapi juga menghadirkan pengalaman visual yang berkesan bagi penonton. Pertunjukan kolosal dalam pembukaan yang disuguhkan, seolah menghadirkan perpaduan unsur seni dan kedisiplinan, sehingga memberi gambaran tentang semangat kolektif yang tumbuh di lingkungan pendidikan tersebut.
DELASPART 7 sebagai Ruang Ekspresi Kolektif
Menurut informasi yang SASTRANUSA himpun, DELASPART 7 merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh SMA Wahid Hasyim Model Karanggeneng Lamongan. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara kreativitas, kerja sama, dan kedisiplinan siswa. Sehingga tidak salah jika pembukaan acara dipilih sebagai momentum untuk menampilkan nilai-nilai tersebut secara nyata
Dalam penjelasannya, salah satu guru SMA Wahid Hasyim Model Karanggeneng, Fuji menyampaikan, bahwa pembukaan DELASPART 7 dikemas dalam sebuah pertunjukan kolosal. Konsep ini dipilih agar pesan kebersamaan dapat tersampaikan secara utuh kepada seluruh warga sekolah, peserta lomba dan masyarakat yang hadir.
“Acara pembukaan DELASPART 7 ini menampilkan pertunjukan kolosal perpaduan musik perkusi, tari, teater, dan paskib,” ujar Fuji.
1. Kolaborasi Seni dalam Satu Panggung
Pertunjukan kolosal tersebut, kata Fuji melanjutkan, menampilkan kolaborasi lintas bidang seni yang dirancang secara terpadu. Musik perkusi menjadi pembuka yang membangun suasana, sementara unsur tari dan teater menghadirkan alur cerita yang mudah dipahami. Selain itu, kehadiran paskib memberikan sentuhan ketegasan dan kedisiplinan dalam komposisi pertunjukan.
Sebanyak 71 siswa-siswi terlibat langsung dalam pementasan tersebut. Jumlah ini menunjukkan besarnya partisipasi peserta didik dalam kegiatan nonakademik yang bersifat kolaboratif. Tak hanya itu, bisa dikatakan, bahwa keterlibatan banyak siswa juga menjadi cerminan proses latihan yang dilakukan secara berkesinambungan sebelum hari pelaksanaan.
“Kurang lebih 71 siswa-siswi terlibat dalam pertunjukan kolosal pembukaan ini,” kata Fuji.
Fuji menilai, kehadiran puluhan siswa di atas panggung tidak hanya menampilkan kemampuan individu, tetapi juga memperlihatkan kerja sama tim. Pasalnya setiap peran saling melengkapi, sehingga alur pertunjukan dapat berjalan dengan rapi dan terstruktur.
2. Alur Cerita yang Terstruktur dan Simbolik
Alur pembukaan pertunjukan disusun secara bertahap, agar penonton dapat mengikuti setiap adegan dengan mudah. Pementasan diawali dengan dentuman musik perkusi yang mengisi lapangan. Suara ritmis tersebut berfungsi sebagai pengantar suasana sebelum cerita dimulai.
Setelah itu, adegan Raja memasuki lapangan menjadi titik awal narasi visual. Raja hadir bersama maskot serta dua pengawal kerajaan, sehingga menghadirkan simbol kepemimpinan dan kebersamaan. Adegan ini sekaligus menjadi penghubung antara unsur musik dan teater dalam satu rangkaian cerita.
“Pementasan dibuka dengan musik perkusi, lalu dilanjutkan dengan adegan Raja masuk ke lapangan bersama maskot dan dua pengawal raja,” jelas Fuji.
Penggunaan simbol Raja dan pengawal tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga memberi makna tentang keteraturan dan tanggung jawab. Dengan begitu, tidak sala apabila cerita yang ditampilkan dapat dipahami sebagai refleksi nilai-nilai yang dijunjung dalam kehidupan sekolah. Unsur simbolik tersebut memperkaya makna pertunjukan tanpa harus disampaikan secara verbal.
3. Aksi Paskib dan Klimaks Penutup
Memasuki bagian berikutnya, imbuh Fuji menuturkan, pertunjukan semakin menarik ketika pasukan paskib mulai melakukan aksinya di lapangan/panggung. Gerakan yang serempak dan terukur menjadi penanda disiplin serta konsistensi latihan. Penampilan paskib juga memberi kontras yang seimbang dengan unsur seni tari dan teater sebelumnya.
Aksi paskib tersebut kemudian mengantarkan penonton menuju bagian penutup. Sebanyak 40 penari tampil bersamaan sebagai titik klimaks pertunjukan. Gerak tari yang dinamis memenuhi lapangan dan menjadi penanda akhir pementasan kolosal.
“Pertunjukan ditutup dengan 40 penari yang menjadi titik klimaks dari keseluruhan pementasan,” ungkap Fuji.
Klimaks tersebut dirancang agar meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Perpaduan antara jumlah penari, musik pengiring, dan formasi gerak menciptakan visual yang kuat. Dengan demikian, penutupan acara pembukaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga emosional.
Antusiasme Penonton dan Makna Kegiatan
Pantauan SASTRANUSA di lapangan, menunjukkan bahwa pertunjukan kolosal tersebut mendapat respons positif dari penonton. Tepuk tangan terdengar gemuruh ketika adegan penutup berlangsung. Reaksi ini menandakan apresiasi terhadap usaha dan kerja keras para siswa yang terlibat.
Antusiasme penonton juga mencerminkan keterhubungan antara pelaku seni dan masyarakat sekolah. Pertunjukan tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga dipahami sebagai hasil proses pendidikan yang menekankan kebersamaan. Oleh karena itu, momen tersebut menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang sulit dilupakan.
Selain itu, kegiatan pembukaan DELASPART 7 menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang tumbuhnya ekspresi budaya dan seni. Melalui kegiatan seperti ini, siswa belajar mengekspresikan diri sekaligus menghargai peran orang lain. Dengan cara tersebut, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga di ruang terbuka yang penuh makna.
Pembukaan DELASPART 7 di SMA Wahid Hasyim Model Karanggeneng Lamongan menghadirkan potret kehidupan sekolah yang dinamis dan berimbang. Pertunjukan kolosal yang melibatkan puluhan siswa memperlihatkan bahwa seni, disiplin, dan kebersamaan dapat berjalan bberiringan
Momen DELASPART 7 ini, bisa dikatakan menjadi pengingat bahwa tradisi sekolah tidak hanya dirawat melalui rutinitas, tetapi juga melalui perayaan kolektif yang memberi ruang bagi ekspresi dan refleksi bersama.*
Penulis: AHe
#DELASPART7 #SMA_Wahid_Hasyim_Model #Karanggeneng_Lamongan #Pertunjukan_Kolosal_Siswa
