Sastranusa.id, Madura - Di sejumlah wilayah Sampang, tradisi keagamaan sering kali tumbuh berdampingan dengan ingatan kolektif masyarakat terhadap para tokoh penyebar agama. Praktik semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan ritual, tetapi juga menjadi cara masyarakat menjaga hubungan historis dengan para ulama dan leluhur yang pernah berperan dalam perkembangan kehidupan keagamaan setempat. Salah satu tradisi yang masih dijaga hingga kini adalah Mulod Makam Tangghulung yang berlangsung di wilayah Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang.
Tradisi tersebut berkaitan erat dengan keberadaan para masyaihk atau kiai dari Langgar Tonggul yang pada masa lampau dikenal sebagai tokoh penyebar ajaran Islam di sejumlah desa sekitar wilayah itu. Dalam ingatan masyarakat, para tokoh tersebut memiliki peran penting dalam memperkenalkan ajaran agama serta membangun kehidupan keagamaan di lingkungan pedesaan. Oleh karena itu, makam para masyaihk menjadi bagian penting dari memori spiritual masyarakat.
Mulod Makam Tangghulung kemudian berkembang sebagai tradisi yang menggabungkan peringatan Maulid dengan ziarah ke makam para tokoh agama yang dihormati. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang kolektif untuk mengenang perjuangan para sesepuh yang pernah membangun kehidupan religius di wilayah tersebut.
Jejak Langgar Tonggul dan Penyebaran Islam di Sekitar Jrengik
Dalam penuturan lisan masyarakat setempat, keberadaan tradisi Mulod Makam berkaitan erat dengan sejarah Langgar Tonggul. Tempat ibadah tersebut dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan yang pernah berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di beberapa desa sekitar. Dari tempat ini, para masyaihk melakukan pengajaran agama sekaligus membina kehidupan masyarakat.
Menurut penjelasan putra pengasuh Langgar Tonggul Gus atau Lora Asnal, tradisi Mulod Makam telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, seiring dengan keberadaan Langgar Tonggul itu sendiri. Para masyaihk yang berperan di tempat tersebut kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai tokoh yang membawa ajaran agama ke berbagai wilayah pedesaan. Jejak pengaruh mereka dapat ditemukan di sejumlah desa di sekitar Kecamatan Jrengik.
Beberapa desa yang sering disebut dalam ingatan masyarakat antara lain Desa Bancelok, Desa Plakaran, dan Desa Buker Kecamatan Jrengik. Wilayah-wilayah tersebut menjadi bagian dari jaringan sosial dan keagamaan yang berkembang melalui aktivitas para ulama dari Langgar Tonggul. Dalam konteks ini, makam para masyaihk menjadi simbol hubungan sejarah antara tokoh agama dan masyarakat yang pernah mereka bina.
Lokasi yang dikenal sebagai Tangghulung kemudian menjadi tempat pemakaman para masyaihk tersebut. Kawasan ini berada di antara Kampung Tonggul dan Kampung Kasong yang secara administratif berada di wilayah Desa Bancelok. Selain sebagai pemakaman umum, area tersebut juga dikenal sebagai pesarehan para kiai dari Langgar Tonggul.
Makna Mulod Makam dalam Tradisi Lokal
Istilah Mulod Makam sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan dua unsur penting dalam tradisi ini. Kata mulod merujuk pada peringatan atau mengingat yang telah lama menjadi bagian dari tradisi. Sementara kata makam merujuk pada tempat peristirahatan para tokoh agama yang dihormati oleh masyarakat setempat.
Menurut penjelasan yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat, Mulod Makam dipahami sebagai upaya untuk mengingat perjuangan para sesepuh yang dimakamkan di tempat tersebut. Tradisi ini menjadi cara masyarakat menjaga hubungan spiritual dengan para tokoh yang pernah berperan dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah Jrengik dan sekitarnya.
Pelaksanaan tradisi ini biasanya dilakukan di kawasan Makam Tangghulung pada waktu setelah salat magrib. Pada saat itu masyarakat berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh setempat. Suasana yang tercipta biasanya berlangsung khidmat karena kegiatan tersebut dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada kanjeng Nabi Muhammad dan terhadap para ulama yang telah wafat.
Rangkaian kegiatan dalam Mulod Makam diawali dengan pembacaan tawassul kepada Nabi Muhammad serta kepada para masyaihk dan leluhur yang dimakamkan di kawasan tersebut. Setelah itu, masyarakat bersama-sama membaca Surah Yasin sebagai bagian dari doa yang dipanjatkan untuk para tokoh yang telah meninggal dunia. Tradisi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat yang dikenal di kalangan masyarakat sebagai sholawat Fihubbi.
Ritual tersebut menunjukkan perpaduan antara tradisi ziarah makam dan praktik keagamaan yang berkembang dalam masyarakat Madura. Dalam konteks ini, Mulod Makam tidak hanya dipahami sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah spiritual yang hidup dalam komunitas setempat.
Tradisi Kolektif Lima Kampung di Sekitar Tangghulung
Mulod Makam Tangghulung tidak hanya melibatkan masyarakat dari satu wilayah saja. Tradisi ini menjadi pertemuan sosial bagi warga dari beberapa kampung yang memiliki hubungan sejarah dengan Langgar Tonggul. Kehadiran masyarakat dari berbagai kampung memperlihatkan luasnya jaringan sosial yang terbentuk dari warisan para masyaihk tersebut.
Beberapa kampung yang biasanya ikut menghadiri kegiatan ini antara lain Kampung Betabbuan, Nagger, Lembung di Desa Plakaran, serta Kampung Tonggul, Klampes, dan Kasong di wilayah Desa Bancelok. Kehadiran masyarakat dari emam kampung tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan bersama di wilayah Jrengik.
Pertemuan tahunan dalam Mulod Makam tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarwarga. Dalam suasana tersebut, masyarakat dari berbagai kampung berkumpul dalam satu kegiatan yang sama untuk mengenang para tokoh agama yang dihormati. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana ingatan sejarah dapat menjadi perekat hubungan sosial di tingkat komunitas.
Hingga kini, Mulod Makam Tangghulung masih terus dilaksanakan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari warisan budaya dan keagamaan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa sejarah penyebaran agama di pedesaan tidak hanya tersimpan dalam catatan tertulis, tetapi juga hidup melalui praktik budaya yang dijaga oleh masyarakat.
Melalui tradisi tersebut, ingatan tentang para masyaihk Langgar Tonggul tetap terpelihara dalam kehidupan masyarakat di sekitar Jrengik. Makam yang berada di kawasan Tangghulung menjadi ruang simbolik yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan spiritual masyarakat masa kini.
Tentunya lewat kolom Jejak ini, Sastranusa.id ingin merawat ingatan tradisi sebagai bagian dari perjalanan panjang budaya, bukan sekadar cerita masa lalu. Ya, seperti tradisi Mulod Makam ini, dikenang dan dilestarikan.*
Penulis: AHe #Mulod_Makam_Tangghulung #Tradisi_Madura #Langgar_Tonggul #Ritual_Adat #Jrengik_Sampang #Tradisi_Nusantara
