Rehabilitasi Sekolah di Padang Pariaman Rampung, Bukti Etos Kerja Pendidikan

Bangunan sekolah di Padang Pariaman setelah rehabilitasi pasca bencana dengan warna cerah dan nuansa tropis.
Sekolah di Padang Pariaman kembali berfungsi setelah rehabilitasi pasca bencana dengan wajah baru yang segar. (Sastranusa/Jeki)

SASTRANUSA – Bencana alam memang datang tanpa memberi waktu untuk bersiap, dan Padang Pariaman merasakannya pada akhir 2025. Hujan lebat yang berlangsung hampir satu bulan itu memicu banjir dan longsor di berbagai wilayah. Namun, di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat tersebut, aktivitas rehabilitasi sekolah tetap berlangsung sebagaimana telah direncanakan sebelumnya.

Pada titik ini, pendidikan diuji bukan oleh kurikulumnya, tetapi oleh konsistensi dan keberanian untuk tetap bekerja di tengah situasi sulit.

Rehabilitasi sekolah di Padang Pariaman bukanlah program tanggap bencana, melainkan bagian dari kebijakan pemerintah daerah melalui Program Pikir (Pokir) Dewan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Pelaksanaannya telah dimulai sebelum bencana alam terjadi, tetap berjalan saat bencana berlangsung, dan rampung pada masa pascabencana. Maka dari itu, rehabilitasi ini patut dibaca sebagai cermin etos kerja pendidikan, yakni bisa dikatakan program yang tangguh menjaga komitmen kerja di tengah tekanan alam dan situasi tak terduga.

Percepatan Rehabilitasi Sarana Pendidikan

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman melalui Dinas Pendidikan melaksanakan rehabilitasi fisik terhadap 57 SD, 7 SMP, dan 27 PAUD. Kegiatan ini dimulai sejak 31 Oktober 2025 dan diselesaikan dalam waktu kurang lebih 45 hari, meskipun pada masa pelaksanaannya wilayah tersebut dilanda curah hujan tinggi. Program yang telah direncanakan ini tetap dijalankan dengan penetapan prioritas yang jelas dan terukur.

Percepatan pekerjaan dilakukan karena sekolah tidak bisa menunggu kondisi benar-benar ideal. Jika ruang belajar terlalu lama tertunda perbaikannya, maka dampaknya akan menumpuk pada proses pembelajaran. Oleh karena itu, rehabilitasi dijalankan agar denyut pendidikan tetap terjaga dan tidak kehilangan momentum, sekalipun alam sedang menguji.

Etos Kerja Pendidikan di Lapangan Rehabilitasi Sekolah

Selanjutnya, pertanyaan penting muncul, bagaimana rehabilitasi ini dapat diselesaikan di tengah cuaca ekstrem. Jawabannya terletak pada etos kerja para pekerja lapangan yang tetap bergerak sesuai perencanaan awal, walaupun hujan dan lumpur menjadi keseharian. Kondisi yang berat justru memperlihatkan kesungguhan mereka dalam menjaga ritme kerja.

Tak hanya pekerja, para kepala sekolah pun hadir memberi dukungan, bukan sekadar memantau dari kejauhan. Dalam konteks budaya Nusantara, kehadiran pemimpin di tengah kerja adalah simbol tanggung jawab moral. Struktur birokrasi dan tenaga lapangan saling menguatkan dalam menjaga komitmen program yang telah ditetapkan.

Rehabilitasi Sekolah Melawan Budaya Kerja Instan

Berbeda dengan budaya instan yang sering memuja hasil cepat tanpa kedalaman proses, rehabilitasi sekolah ini memperlihatkan disiplin yang terjaga. Ia tidak sekadar mengejar selesai, tetapi juga menjaga kualitas pekerjaan meskipun waktu dan kondisi alam memberi tantangan. Semakin sempit ruang gerak, semakin ketat pengendalian kerja dilakukan.

Di samping itu, rehabilitasi ini menegaskan bahwa pembangunan pendidikan bukan sekadar soal angka dan proyek. Gedung yang diperbaiki memang penting, tetapi nilai kerja di baliknya jauh lebih menentukan keberlanjutan. Sebab sekolah bukan hanya bangunan fisik, melainkan ruang pembentukan watak dan masa depan.

Refleksi Etos Kerja Pendidikan

Pada akhirnya, rehabilitasi sekolah di Padang Pariaman menjawab pertanyaan dasar pembangunan. Siapa yang bekerja adalah pemerintah daerah bersama tenaga lapangan, apa yang dikerjakan adalah perbaikan sarana pendidikan melalui program Pikir Dewan, kapan dan di mana berlangsung telah direncanakan sejak awal, mengapa harus tetap dijalankan karena pendidikan tidak bisa ditunda, dan bagaimana diwujudkan melalui kerja kolektif yang konsisten.

Namun gugatan kecil tetap layak diajukan, apakah etos kerja ini akan terus terjaga ketika tidak ada tekanan alam maupun sorotan krisis. Sebab ujian sesungguhnya bukan hanya saat kondisi sulit, melainkan ketika keadaan kembali normal dan komitmen kerja diuji tanpa dorongan keadaan luar.*

Penulis: Jeki

#Rehabilitasi_Sekolah #Pikir_Dewan #Etos_Kerja #Padang_Pariaman #Etos_Kerja_Pendidikan

Baca Juga
Posting Komentar