![]() |
| Ilustrasi sosok Jawa duduk tenang di teras rumah tradisional, meresapi sunyi dan refleksi batin. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/SASTRANUSA) |
SASTRANUSA - Sunyi sering datang tanpa diundang dalam keseharian kita, muncul di sela-sela pagi yang belum ramai atau malam yang sudah terlalu penat. Waktu ini bukan selalu ketiadaan suara, melainkan jeda yang terasa asing di tengah hidup yang terbiasa bergerak cepat. Dalam sunyi itu, manusia kerap berhadapan dengan dirinya sendiri, tanpa penonton dan tanpa tuntutan peran.
Dalam tradisi Jawa, sunyi tidak dipandang sebagai kekosongan yang harus dihindari. Ia justru dilihat sebagai ruang batin yang memungkinkan seseorang mendengar ulang suara hidupnya. Sunyi menjadi laku, sebuah jalan yang dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar keadaan yang kebetulan terjadi.
Laku batin dalam kebudayaan Jawa sering tidak hadir sebagai ajaran yang lantang. Ia hidup dalam kebiasaan kecil, dalam sikap menahan diri, dan dalam cara seseorang memposisikan dirinya di hadapan dunia. Sunyi, dalam pengertian ini, bukan menarik diri dari kehidupan, melainkan menata ulang cara hadir di dalamnya.
Kita mungkin mengenalnya lewat kebiasaan orang tua yang memilih diam sebelum memberi nasihat. Atau lewat sosok kakek yang duduk lama di teras, memandangi halaman tanpa tergesa-gesa mengomentari apa pun. Jadi semacam ada ketenangan yang tidak mencari pengakuan, tetapi justru mengendap sebagai kebijaksanaan.
Sunyi sebagai laku batin, mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu segera ditanggapi. Dalam budaya yang menghargai unggah-ungguh, diam sering kali menjadi bentuk penghormatan tertinggi. Jadi ia semacam memberi ruang bagi orang lain, sekaligus ruang bagi diri sendiri untuk tidak tergesa mengambil sikap.
Dalam keseharian Jawa, nilai ini terasa dalam pilihan kata yang hemat dan nada bicara yang ditahan. Banyak hal disampaikan melalui isyarat, bukan pernyataan langsung. Sunyi bekerja sebagai jembatan antara perasaan dan tindakan, agar keduanya tidak saling melukai.
Ada kesadaran bahwa kata-kata memiliki daya, dan karena itu perlu dihemat. Diam menjadi cara menjaga keseimbangan agar ucapan tidak melampaui niat. Dalam sunyi itu, seseorang belajar menimbang, bukan sekadar bereaksi.
Laku sunyi juga tampak dalam praktik tirakat yang sederhana. Tidak selalu berupa ritual besar, tetapi sering hadir sebagai kesediaan mengurangi, menunda, atau menahan keinginan. Pengurangan itu bukan hukuman bagi diri, melainkan upaya mendengarkan ulang apa yang sungguh dibutuhkan.
Sunyi memungkinkan batin berjumpa dengan rasa cukup. Yaitu dalam diam, seseorang bisa menyadari bahwa banyak kegelisahan berasal dari keinginan yang tidak sempat disaring. Ketika suara luar mereda, kebutuhan batin perlahan menemukan bentuknya sendiri.
Di tengah kehidupan modern yang penuh notifikasi itu, sunyi menjadi pengalaman yang semakin langka. Keheningan sering dianggap ganjil, bahkan menakutkan, karena memaksa kita berhadapan dengan pikiran sendiri. Namun justru di situlah nilai laku batin diuji, apakah kita masih mampu duduk bersama diri tanpa distraksi.
Tradisi Jawa tidak mengagungkan sunyi sebagai pelarian dari dunia. Namun sunyi itu ditempatkan sebagai bagian dari keseimbangan antara rame dan sepi. Samentara hidup tidak harus selalu riuh untuk bermakna, sebagaimana sunyi tidak selalu berarti kesepian.
Ada kebijaksanaan dalam memahami kapan harus berbicara dan kapan memilih diam. Sunyi mengajarkan kepekaan membaca situasi seperti itu, artinya bukan sekadar mengikuti dorongan ego. Dalam diam yang tepat, pasalnya seseorang bisa lebih jujur pada perasaan dan lebih adil pada keadaan.
Laku batin ini juga membentuk sikap nrima yang sering disalahpahami. Nrima bukan pasrah tanpa daya, melainkan penerimaan yang lahir dari pemahaman batas diri. Nah, sunyi diketahui membantu seseorang mengenali batas itu tanpa rasa kalah.
Dalam pengalaman sosial, sikap ini menciptakan keteduhan. Orang yang terbiasa mengolah sunyi cenderung tidak mudah terseret amarah kolektif. Ia hadir dengan jarak yang sehat, cukup dekat untuk peduli, cukup jauh untuk tetap jernih.
Sunyi memberi waktu bagi rasa untuk matang. Kesedihan, kegembiraan, dan kekecewaan tidak langsung diluapkan, tetapi diendapkan. Dari endapan itulah lahir sikap yang lebih utuh dan tidak reaktif.
Dalam sastra Jawa, sunyi sering menjadi latar batin tokoh-tokohnya. Jika ditelisik hal ini bukan sekadar suasana, melainkan kondisi jiwa yang menentukan pilihan hidup. Jadi semacam tokoh yang mampu menempuh sunyi biasanya digambarkan lebih arif dalam mengambil keputusan.
Bahasa Jawa sendiri menyediakan banyak kata yang berlapis makna untuk diam dan tenang. Setiap kata mengandung nuansa yang berbeda, menandakan betapa pentingnya pengalaman batin ini dalam keseharian.
Di ruang keluarga, nilai ini diwariskan tanpa ceramah panjang. Anak belajar dari cara orang tua menanggapi masalah, dari kesabaran yang tidak selalu dijelaskan. Jadi dari ini bisa dikatakan, bahwa sunyi menjadi bahasa yang dipahami lewat teladan, bukan definisi.
Namun laku sunyi bukan berarti meniadakan suara kritis. Melaikan, justru memberi fondasi agar kritik lahir dari kejernihan, bukan luapan emosi sesaat. Diam mendahului kata, agar kata tidak kehilangan makna.
Dalam konteks Nusantara yang majemuk, sunyi sebagai laku batin menawarkan jalan tengah. Yakni memberikan ruang pada kita untuk menghargai perbedaan tanpa harus selalu memenangkannya. Jadi semacam ada kebijaksanaan dalam yang tidak selalu menjadi hal paling keras dalam bersuara.
Sunyi juga mengingatkan bahwa identitas tidak selalu perlu dipertontonkan. Bisa dikatakan ada kekuatan dalam menjadi sesuatu, tanpa harus terus-menerus menyatakan. Dalam laku ini, keberadaan tidak bergantung pada pengakuan luar.
Di tengah arus perubahan, nilai ini tetap relevan. Yaitu tidak menolak kemajuan, bahka lebih pada mengajak kita melambat sejenak untuk memahami arah. Dalam hal ini SASTRANUSA ingin mengatakan bWah sunyi menjadi kompas batin di tengah kebisingan pilihan.
Barangkali itulah sebabnya banyak orang Jawa merasa perlu “menepi” sesekali. Bukan untuk menghilang, tetapi untuk kembali dengan pandangan yang lebih jernih. Mengingat menepi adalah cara merawat kewarasan dalam dunia yang menuntut kecepatan.
Sunyi sebagai laku batin yang tidak menjanjikan perubahan instan. Artinya, semacam mengajak bekerja perlahan, hampir tak terlihat, seperti air yang menghaluskan batu. Dampaknya terasa dalam jangka panjang, dalam cara seseorang bersikap dan memaknai hidup.
Kolom esai di SASTRANUSA ingin merawat makna dengan bahasa yang jernih dan pengalaman yang dipikirkan. Dalam semangat itu, sunyi bisa dibaca sebagai ajakan halus untuk kembali mendengarkan diri. Bukan untuk menjadi lebih unggul, melainkan lebih selaras.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan apakah kita mampu hidup dalam sunyi sepenuhnya. Pertanyaannya adalah, apakah kita masih memberi ruang bagi diam untuk bekerja dalam batin kita. Di sanalah, mungkin, kita menemukan ketenangan yang tidak gaduh menuntut perhatian.*
Penulis: AHe #SASTRANUSA #Sunyi #Tradisi_Jawa #Refleksi_Kehidupan #Laku_Batin #Kebudayaan_Nusantara
