Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Moang Sangkal, Tari Tradisi Madura dalam Jejak Ingatan Sosial

Penari tradisional dengan kostum hijau, merah, dan emas tampil anggun di acara budaya dengan penonton ramai.
Ilustrasi Penari tradisional Moang Sangkal berbusana hijau merah emas tampil anggun, memancarkan pesona budaya Indonesia di acara publik. (Gambar oleh Agus Purwoki dari Pixabay)

SASTRANUSA - Di lanskap kebudayaan Madura, seni pertunjukan tidak lahir sebagai hiburan semata. Kesenian ini tumbuh dari kebutuhan sosial, ritus peralihan, dan mekanisme penyampaian nilai hidup. Salah satu bentuknya adalah Tari Moang Sangkal, yang telah dikenal masyarakat di wilayah Madura sejak lama sebagai bagian dari praktik adat.

Tari Moang Sangkal bukan adaptasi baru dari tradisi tutur. Sejak awal, ia hadir sebagai tari tradisi yang memuat pesan lisan, nasihat, dan simbol relasi sosial. Unsur “moang” atau penyampaian pesan memang melekat di dalamnya, namun sejak dulu disampaikan melalui medium gerak, irama, dan struktur pertunjukan.

Penegasan ini penting agar pembacaan terhadap Moang Sangkal tidak terjebak pada anggapan bahwa tari tersebut lahir belakangan. Sebaliknya, tulisan ini mencatat Moang Sangkal sebagai tari tradisional Madura yang sejak awal berfungsi sebagai sarana penyampaian nilai dan ingatan kolektif.

Moang Sangkal sebagai Tari Adat

Dalam praktik masyarakat Madura, Tari Moang Sangkal dikenal sebagai tari yang berkaitan dengan peristiwa sosial tertentu, terutama menjelang atau dalam rangkaian prosesi pernikahan dan acara kerjaan. Kini Tari tersebut sering ditampilkan dalam ruang komunitas, baik di halaman rumah maupun lingkungan kampung. Kehadirannya menandai momen penting dalam siklus hidup seseorang.

Gerak tari Moang Sangkal bersifat komunikatif dan simbolik. Setiap rangkaian gerak mengandung makna nasihat, peringatan, dan harapan. Penari tidak sekadar menampilkan estetika tubuh, tetapi menjalankan peran sebagai penyampai pesan budaya.

Sejak dulu, masyarakat memahami bahwa pesan dalam Moang Sangkal tidak disampaikan melalui pidato panjang. Nilai-nilai hidup dirangkum dalam gerak yang berulang, ritme yang teratur, dan ekspresi yang tertahan. Di sinilah letak fungsi sosial tari tersebut.

Unsur Tari dan Gending Khas Madura

Sebagai tari tradisi, Moang Sangkal tidak dapat dipisahkan dari gending khas Madura yang mengiringinya. Musik tradisi ini pasalnya, berfungsi sebagai penyangga ritme sekaligus penentu suasana pertunjukan. Pola tabuhan dan alur irama memberi tanda bagi penari untuk mengatur tempo gerak serta transisi antarbagian tari.

Gerak Tari Moang Sangkal disusun selaras dengan struktur gending yang mengalir bertahap. Ketukan yang berulang dan cenderung stabil menciptakan kesan tertahan, sejalan dengan karakter tari Madura yang menekankan keteguhan dan pengendalian diri. Dalam konteks ini, gending tidak sekadar pengiring, melainkan penuntun makna gerak.

Keterpaduan antara tari dan gending, justru menjadikan Moang Sangkal sebagai pertunjukan yang menyampaikan pesan hidup melalui harmoni bunyi dan tubuh. Mengingat pesan tidak selalu diucapkan secara verbal, tetapi dirasakan melalui hubungan antara irama dan gerak. Sejak awal, Moang Sangkal hadir sebagai tari adat Madura yang menggantungkan kekuatan ekspresinya pada kesatuan antara gending dan tubuh penari.

Fungsi Sosial dalam Kehidupan Komunitas

Tari Moang Sangkal berfungsi sebagai pengingat kolektif tentang tanggung jawab sosial. Ia menempatkan individu dalam jaringan keluarga dan masyarakat. Pesan tentang kehormatan, kesabaran, dan kerja keras menjadi inti yang terus diulang dalam setiap pementasan.

Bagi komunitas, keberadaan tari ini tentu memperkuat rasa kebersamaan. apalagi pertunjukan tidak hanya ditujukan kepada pihak yang sedang menjalani prosesi hidup, tetapi juga kepada seluruh warga yang menyaksikan. Dengan cara ini, nilai-nilai budaya ditegaskan secara bersamaan.

Fungsi tersebut menjadikan Moang Sangkal sebagai bagian dari mekanisme pendidikan sosial nonformal. Hal itu bisa ditelisi pada nilai hidup yang ditanamkan tanpa ruang kelas, melalui tontonan yang sarat tuntunan.

Perubahan Konteks, Pakem yang Tidak Berubah

Perubahan zaman memengaruhi ruang dan situasi pementasan Tari Moang Sangkal, tetapi tidak menyentuh unsur dasarnya. Sejak dulu hingga sekarang, gerak tari, tabuhan gending, serta durasi pementasan dijalankan sesuai pakem yang telah diwariskan. Ketiga unsur tersebut dipahami sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan atau diubah.

Urutan gerak dalam Tari Moang Sangkal mengikuti pola yang tetap, selaras dengan alur gending pengiring. Durasi pementasan juga ditentukan oleh panjang dan struktur tabuhan, sehingga tidak dapat dipersingkat atau diperpanjang tanpa mengganggu keseimbangan pertunjukan. Dalam pemahaman masyarakat pendukungnya, perubahan pada salah satu unsur akan menghilangkan makna dan keutuhan tari.

Dengan demikian, yang mengalami penyesuaian hanyalah konteks kehadiran Moang Sangkal di ruang sosial yang berbeda. Tari ini tidak pernah berubah bentuk, tidak menyesuaikan durasi, dan tidak mengubah tabuhan. Ia tetap hidup sebagai tari tradisi Madura dengan pakem yang dijaga lintas generasi, meski dipentaskan dalam situasi zaman yang terus bergerak.

Menjaga Jejak dalam Pencatatan

Mencatat Moang Sangkal sebagai tari yang telah ada sejak dulu berarti menempatkannya secara adil dalam sejarah budaya Madura. Kesalahan pembacaan asal-usul berpotensi mengaburkan peran masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, pencatatan perlu berpijak pada ingatan lokal dan praktik yang hidup.

Jejak budaya tidak selalu terdokumentasi secara tertulis. Banyak di antaranya hidup dalam kebiasaan dan pertunjukan yang diwariskan antar generasi. Moang Sangkal adalah contoh bagaimana tari menjadi arsip sosial yang bergerak.

Kolom Jejak mencatat yang pernah dan masih ada, agar ingatan tidak putus di tengah jalan. Dalam semangat itu, Tari Moang Sangkal dicatat sebagai bagian dari kesinambungan tradisi, bukan hasil rekayasa kebudayaan baru.

Menegaskan yang Telah Ada

Baiklah, mari kita persingkat pembahasan di atas, yakni, tari Moang Sangkal adalah bagian dari sejarah kebudayaan Madura yang hidup melalui tubuh, gerak, dan ingatan kolektif. Ia telah ada sejak dulu sebagai tari adat yang mengemban fungsi sosial dan edukatif. Penegasan ini penting agar warisan budaya tidak dibaca secara terbalik.

Dengan memahami Moang Sangkal sebagai tari sejak awal, kita dapat melihat bagaimana masyarakat Madura merawat nilai hidup melalui seni pertunjukan. Di tengah perubahan zaman, pencatatan yang jernih menjadi cara menjaga agar jejak tersebut tetap terbaca dan bermakna.*

Penulis: AHe

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad