Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Tradisi Acabis di Madura, Ikatan Guru dan Santri yang Terjaga Turun-Temurun

Ilustrasi tradisi Acabis di Madura saat santri bersilaturahmi kepada kiai di surau pada malam Idul Fitri.
Ilustrasi suasana tradisi Acabis ketika santri bersilaturahmi kepada kiai di surau pada malam Idul Fitri di Madura. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Tintanesia)

Sastranusa.id, Madura - Di sejumlah daerah di pulau garam, terdapat kebiasaan yang terus bertahan dalam kehidupan pesantren dan masyarakat santri. Tradisi itu dikenal dengan sebutan Acabis, sebuah praktik sederhana ketika santri datang bersilaturahmi kepada kiai atau guru ngajinya. Meski tanpa prosesi resmi, tradisi ini menjadi bagian dari relasi kultural yang telah berlangsung lama.

Acabis biasanya dilakukan di surau atau langgar tempat santri dahulu belajar mengaji. Momen yang paling sering dipilih adalah malam menjelang Idul Fitri, ketika suasana kampung dipenuhi kegembiraan sekaligus rasa rindu setelah menjalani bulan Ramadan. Pada saat itu, para santri datang untuk sowan kepada guru mereka sebagai bentuk penghormatan dan kedekatan batin.

Sastranusa.id berbincang dengan seorang santri sepuh bernama Niam. Dia menceritakan bahwa tradisi Acabis telah dikenal sejak masa kakek mereka. Kebiasaan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dalam lingkungan pesantren dan keluarga santri. Bagi sebagian masyarakat, Acabis bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan cara menjaga hubungan moral antara murid dan guru.

Dalam praktiknya, tidak ada ritual khusus yang harus dijalankan. Santri hanya datang ke rumah atau surau tempat kiai berada untuk bersilaturahmi. Kadang pertemuan berlangsung singkat, sekadar menyampaikan salam dan melepas rindu setelah lama tidak bertemu.

Meski demikian, pertemuan tersebut sering diisi dengan nasihat dari kiai kepada para santri. Nasihat itu biasanya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, perjalanan spiritual, atau arah kehidupan yang akan dijalani oleh para muridnya. Dalam suasana yang sederhana, percakapan seperti ini sering menjadi ruang pembelajaran yang tidak tertulis.

Jumlah santri yang datang untuk Acabis juga sangat beragam. Ada yang datang seorang diri, ada pula yang hadir bersama teman atau kelompok dari daerah yang sama. Pada beberapa kesempatan, jumlah santri yang berkumpul bahkan dapat mencapai ratusan hingga ribuan orang.

Fenomena tersebut menunjukkan kuatnya ikatan emosional antara santri dan gurunya. Hubungan ini tidak berhenti ketika masa belajar di surau selesai. Ikatan itu tetap dipelihara melalui silaturahmi, termasuk melalui tradisi Acabis yang terus dilakukan setiap tahun.

Keunikan lain dari tradisi ini terletak pada sifatnya yang turun-temurun. Dalam banyak keluarga santri di Madura, hubungan dengan seorang kiai sering diwariskan dari generasi sebelumnya. Seorang anak bisa saja datang kepada kiai yang sama dengan yang dahulu menjadi guru bagi ayah atau bahkan kakeknya.

Ikatan seperti ini menciptakan jaringan sosial yang khas dalam kehidupan pesantren. Guru tidak hanya dipandang sebagai pengajar ilmu agama, tetapi juga sebagai figur moral yang dihormati sepanjang hidup. Sementara itu, santri tetap menjaga hubungan dengan gurunya sebagai bentuk penghargaan terhadap ilmu yang pernah diterima.

Dalam konteks budaya Madura, tradisi Acabis memperlihatkan bagaimana relasi sosial dibangun melalui nilai penghormatan dan kedekatan spiritual. Silaturahmi kepada guru menjadi cara menjaga kesinambungan pengetahuan sekaligus memperkuat identitas komunitas santri. Tradisi ini berlangsung tanpa aturan formal, namun tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, praktik seperti Acabis menunjukkan bahwa sebagian nilai lama masih bertahan. Modernitas mungkin mengubah banyak cara berinteraksi, tetapi hubungan antara guru dan murid tetap memiliki ruang yang kuat dalam budaya pesantren. Tradisi sederhana ini menjadi pengingat bahwa ilmu dan penghormatan tidak berhenti pada masa belajar, melainkan berlanjut dalam hubungan yang dijaga sepanjang waktu.

Kolom Sorot di Sastranusa.id, menempatkan dinamika tradisi hari ini dalam kerangka makna budaya, bukan sekadar peristiwa yang lewat. Tradisi Acabis memperlihatkan bagaimana masyarakat Madura merawat hubungan sosial yang lahir dari dunia pesantren, sekaligus menjaga jembatan antara generasi lama dan generasi baru dalam kehidupan budaya yang terus bergerak.*

Penulis: AHe #Tradisi_Madura
#Acabis #Mudaya_Madura #Kearifan_Lokal #Tradisi_Nusantara

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad