![]() |
| Makanan khas untuk tradisi Cok Bhumé: Tumpeng nasi kuning dengan lauk tradisional tersaji indah di atas tampah beralas daun pisang. (Gambar oleh Mufid Majnun dari Pixabay) |
Sastranusa.id, Madura - Rumah dalam pandangan masyarakat di Madura tidak semata dipahami sebagai bangunan tempat bernaung. Ia sering dimaknai sebagai ruang kehidupan yang menyimpan harapan, doa, dan perjalanan keluarga yang menempatinya. Karena itulah, memasuki rumah baru tidak hanya dipandang sebagai peristiwa praktis, tetapi juga sebagai momen yang memiliki makna batin.
Dalam konteks tersebut, lahirlah tradisi yang dikenal dengan sebutan Cok Bhumé. Tradisi ini dilakukan oleh keluarga yang hendak menempati rumah baru sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan. Kehadirannya memperlihatkan bagaimana masyarakat Madura memaknai rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang perlu disertai doa.
Sesepuh Madura, Hasip, pernah menjelaskan bahwa Cok Bhumé memiliki arti penting bagi keluarga yang akan memasuki rumah barunya. Tradisi ini biasanya dilaksanakan ketika sebuah rumah mulai dihuni oleh keluarga yang membangunnya. Dalam beberapa praktik, ritual tersebut bahkan dapat diulang setiap tahun hingga waktu tertentu yang telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat.
Pengulangan tersebut bukan sekadar mempertahankan tradisi lama. Ia mencerminkan cara masyarakat menjaga hubungan batin antara manusia, rumah, dan lingkungan sosial di sekitarnya. Rumah dipandang sebagai ruang hidup yang perlu dijaga keberkahannya melalui doa bersama.
Tradisi Sedekah Bumi dalam Versi Keluarga
Secara kultural, Cok Bhumé sering dipahami sebagai bentuk sedekah bumi dalam tradisi masyarakat Madura. Namun praktiknya memiliki perbedaan tertentu jika dibandingkan dengan tradisi serupa di wilayah lain di Nusantara. Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat pada bentuk ritual, tetapi juga pada cara masyarakat memaknainya.
Di banyak daerah di Pulau Jawa, sedekah bumi umumnya dilakukan oleh seluruh warga desa sebagai kegiatan bersama. Ritual tersebut menjadi ruang kolektif bagi masyarakat untuk merayakan hasil bumi sekaligus memohon keberkahan bagi desa mereka. Kebersamaan desa menjadi unsur utama dalam praktik tersebut.
Sebaliknya, dalam tradisi Madura, Cok Bhumé lebih sering dilakukan oleh satu keluarga yang memiliki rumah baru. Meskipun demikian, acara tersebut tidak pernah berlangsung secara tertutup. Keluarga yang melaksanakannya tetap mengundang warga satu kampung untuk hadir dan bersama-sama memanjatkan doa.
Praktik tersebut memperlihatkan bahwa tradisi keluarga dalam budaya Madura tetap memiliki dimensi sosial yang kuat. Sebuah rumah yang baru dihuni tidak hanya menjadi milik pribadi, tetapi juga bagian dari kehidupan komunitas di sekitarnya. Melalui pertemuan itu, hubungan sosial antarwarga kembali diperkuat.
Ritual tersebut pada akhirnya menjadi ruang pertemuan antara pengalaman pribadi dan kehidupan komunal. Sebuah keluarga mensyukuri rumah yang dimilikinya, sementara masyarakat sekitar ikut menghadirkan doa dan kebersamaan. Tradisi ini memperlihatkan bahwa kehidupan sosial di Madura sering tumbuh dari pertemuan antara kepentingan keluarga dan solidaritas komunitas.
Simbol Hasil Bumi dan Makna Kesederhanaan
Perbedaan lain antara Cok Bhumé dan sedekah bumi di wilayah lain dapat dilihat pada bentuk sajian ritualnya. Dalam tradisi Jawa, tumpeng yang disajikan biasanya berukuran besar dan menjadi pusat perhatian dalam acara tersebut. Tumpeng besar sering dimaknai sebagai simbol kemakmuran dan harapan akan kehidupan yang melimpah.
Dalam praktik Cok Bhumé di Madura, tumpeng yang disajikan justru cenderung berukuran lebih kecil. Namun di sekelilingnya diletakkan berbagai hasil bumi yang berasal dari tanaman yang tumbuh di dalam tanah. Di antaranya kacang, singkong, dan ketela yang menjadi bagian dari sajian ritual.
Kehadiran hasil bumi tersebut mengandung makna simbolik yang menarik. Tanaman yang tumbuh di dalam tanah sering dipandang sebagai lambang kehidupan yang bertahan melalui kesederhanaan. Ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia selalu berhubungan dengan tanah yang memberikan penghidupan.
Simbol-simbol tersebut memperlihatkan bahwa rasa syukur dalam tradisi Madura tidak selalu ditampilkan melalui kemegahan. Kesederhanaan justru menjadi bahasa budaya yang menyampaikan makna yang lebih dalam. Hasil bumi yang sederhana menjadi pengingat bahwa keberkahan hidup sering lahir dari hal-hal yang tampak biasa.
Dalam perspektif budaya, ritual seperti Cok Bhumé memperlihatkan cara masyarakat memaknai hubungan antara manusia dan ruang tempat tinggalnya. Rumah tidak dipandang sebagai benda mati yang berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari kehidupan yang terhubung dengan alam, masyarakat, dan keyakinan spiritual.
Di tengah perubahan zaman, tradisi semacam ini menghadapi berbagai tantangan. Modernisasi sering membawa cara pandang baru tentang rumah yang lebih menekankan fungsi praktis. Namun praktik budaya seperti Cok Bhumé menunjukkan bahwa rumah juga memiliki dimensi simbolik yang tidak mudah digantikan.
Tradisi tersebut mengingatkan bahwa tempat tinggal tidak hanya dibangun dari dinding dan atap. Ia juga dibangun dari doa, harapan, dan hubungan sosial yang menyertainya. Dalam kerangka itu, Cok Bhumé menjadi cara masyarakat Madura merawat makna rumah dalam kehidupan mereka.
Kolom Esai di Sastranusa.id menempatkan tradisi sebagai ruang tafsir dan perenungan, bukan sekadar warisan yang dipamerkan. Cok Bhumé memperlihatkan bahwa rasa syukur dapat hadir dalam bentuk sederhana ketika sebuah keluarga memulai kehidupan di rumah baru dan mengundang masyarakat untuk ikut mendoakannya. Tradisi itu mengingatkan bahwa rumah, pada akhirnya, bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang tempat manusia menanam harapan bagi kehidupan yang akan datang.*
Penulis: AHe #Tradisi_Madura #Ritual_Madura #Sedekah_Bumi_Madura #Kearifan_Lokal #Tradisi_Nusantara
