![]() |
| Ilustrasi anak-anak memainkan permainan tradisional Penténg dengan potongan bambu di lapangan desa Madura. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Sastranusa.id) |
Sastranusa.id, Madura - Permainan tradisional yang dahulu ramai dimainkan anak-anak di kampung kini semakin jarang terlihat di sejumlah daerah di Madura. Salah satu permainan yang mengalami perubahan nasib itu adalah Penténg, permainan rakyat yang pernah menjadi hiburan sekaligus ajang ketangkasan bagi anak-anak dan remaja. Di Sampang, permainan ini perlahan memudar seiring perubahan pola bermain generasi muda.
Penténg bukan sekadar permainan biasa. Ia menyimpan unsur kebersamaan, strategi, dan kecekatan yang dimainkan secara berkelompok. Permainan ini juga menggambarkan cara masyarakat kampung membangun interaksi sosial melalui aktivitas sederhana di ruang terbuka.
Soleh, seorang warga Sampang yang pernah memainkan permainan tersebut, menjelaskan bahwa Penténg dimainkan oleh dua tim yang saling berhadapan. Setiap tim biasanya terdiri dari minimal lima orang. Satu tim berperan sebagai pemain utama, sementara tim lainnya bertugas sebagai penangkap atau penakluk.
Peralatan permainan ini cukup sederhana dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Alat utamanya berupa ranting bambu khas Madura yang dibentuk menjadi dua bagian dengan ukuran berbeda. Satu batang bambu dibuat sepanjang sekitar empat puluh sentimeter, sementara potongan lainnya sekitar lima belas sentimeter.
Agar permainan dapat dimulai, para pemain terlebih dahulu membuat lubang kecil di tanah berbentuk wajid. Potongan bambu yang pendek diletakkan melintang di atas lubang tersebut. Sementara bambu yang lebih panjang diposisikan berdiri tepat di belakang potongan bambu kecil.
Saat permainan dimulai, bambu panjang digunakan untuk mendorong atau memukul bambu kecil agar terlempar jauh dari lubang. Dorongan harus dilakukan sekuat mungkin sehingga bambu kecil melayang ke udara. Tantangannya terletak pada upaya tim lawan yang berusaha menangkap bambu tersebut sebelum jatuh ke tanah.
Jika bambu kecil berhasil ditangkap oleh tim penakluk, maka posisi permainan akan berganti. Tim yang sebelumnya menjadi pemain harus beralih menjadi penangkap. Sebaliknya, tim yang berhasil menangkap bambu akan memperoleh kesempatan menjadi pemain utama.
Namun jika bambu kecil tidak berhasil ditangkap oleh tim lawan, maka tim pemain akan mendapatkan poin. Penghitungan poin biasanya dilakukan dengan menggunakan bambu panjang sebagai alat ukur. Jarak jatuhnya bambu kecil akan diukur untuk menentukan nilai yang diperoleh oleh tim pemain.
Permainan Penténg dahulu sering dimainkan di lapangan terbuka, halaman rumah, atau tanah kosong di pinggir kampung. Anak-anak biasanya berkumpul menjelang sore hari setelah kegiatan sekolah atau membantu orang tua. Suasana permainan sering diwarnai sorak-sorai, tawa, dan persaingan yang tetap berlangsung dalam suasana akrab.
Selain melatih ketangkasan fisik, permainan ini juga membangun kerja sama antaranggota tim. Setiap pemain harus memahami perannya, baik sebagai pemukul maupun penangkap. Di dalamnya terdapat latihan membaca situasi, memperkirakan arah lemparan, serta menyusun strategi sederhana agar tim dapat memperoleh poin.
Permainan seperti Penténg juga menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat kampung. Ia tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang mempertemukan anak-anak dari berbagai keluarga. Melalui permainan itu, hubungan pertemanan terbentuk secara alami.
Namun perubahan zaman membawa pergeseran dalam cara anak-anak menghabiskan waktu luang. Permainan tradisional yang membutuhkan ruang terbuka dan kebersamaan kini semakin jarang dimainkan. Kehadiran telepon pintar dan berbagai permainan digital telah mengubah pola hiburan generasi muda.
Soleh menyebut bahwa permainan Penténg kini hampir tidak terlihat lagi dimainkan oleh anak-anak di Sampang. Banyak anak lebih memilih bermain game di telepon genggam daripada berkumpul di lapangan. Perubahan tersebut terjadi secara perlahan seiring perkembangan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada permainan Penténg. Banyak permainan tradisional lain di berbagai daerah juga mengalami nasib serupa. Ketika ruang bermain bergeser dari tanah lapang menuju layar digital, sejumlah tradisi permainan rakyat mulai kehilangan ruang hidupnya.
Di sisi lain, permainan tradisional seperti Penténg sebenarnya menyimpan nilai sosial yang penting. Ia mengajarkan interaksi langsung, kerja sama, dan pengalaman fisik yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh permainan digital. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang terbentuk melalui praktik bermain bersama.
Sastranusa.id dalam kolom Sorot menempatkan dinamika tradisi hari ini dalam kerangka makna budaya, bukan sekadar peristiwa yang lewat. Perubahan yang dialami permainan Penténg di Sampang menunjukkan bagaimana tradisi dapat bergeser ketika berhadapan dengan teknologi modern, sekaligus mengingatkan bahwa permainan rakyat pernah menjadi ruang penting bagi kehidupan sosial masyarakat.*
Penulis: AHe #Tradisi_Madura #Permainan_Tradisional_Madura #Budaya_Anak_Kampung #Permainan_Rakyat_Madura #Tradisi_Nusantara
