Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Menelusuri Tradisi Rokat Bujuk Kramat di Kampung Lembung, Jrengik Sampang

Ilustrasi masyarakat Madura melakukan doa bersama di area makam keramat dalam tradisi Rokat Bujuk Kramat di pedesaan Sampang.
Ilustrasi suasana ziarah dan doa bersama dalam tradisi Rokat Bujuk Kramat di wilayah Jrengik, Sampang, Madura. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Sastranusa.id)

Sastranusa.id, Madura - Di sejumlah wilayah Madura, tradisi ziarah ke makam leluhur masih menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat. Praktik ini tidak hanya berkaitan dengan penghormatan kepada tokoh masa lalu, tetapi juga berfungsi sebagai ruang kolektif untuk merawat ingatan sejarah dan spiritualitas lokal. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini adalah Rokat Bujuk Kramat yang dilaksanakan masyarakat Kampung Lembung di wilayah Jrengik, Kabupaten Sampang.

Rokat Bujuk Kramat merupakan upacara adat yang berkaitan dengan ziarah dan doa bersama di makam tokoh yang dipercaya memiliki peran penting dalam sejarah lokal. Tradisi ini dilakukan di makam Raden Cakranegara yang berada di Dusun Dhimor, Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik. Dalam praktiknya, masyarakat tidak sekadar datang untuk berziarah, tetapi juga melaksanakan rangkaian doa dan tahlilan sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut.

Tradisi ini dikenal luas di kalangan masyarakat sekitar dengan beberapa sebutan yang saling berkaitan. Sebagian masyarakat menyebutnya Rokat Bujuk Kramat, sementara yang lain mengenalnya sebagai rokat di makam Raden Cakranegara atau Pangeran Plakaran. Perbedaan penyebutan tersebut mencerminkan cara masyarakat setempat mengingat tokoh yang diyakini memiliki hubungan dengan sejarah lama wilayah tersebut.

Jejak Sejarah Pangeran Cakranegara dalam Tradisi Lokal

Cerita mengenai Pangeran Cakranegara hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Desa Plakaran dan sekitarnya. Dalam tradisi lisan, tokoh ini sering dikaitkan dengan masa peralihan antara pengaruh budaya Hindu-Buddha pada masa kerajaan besar di Nusantara dan berkembangnya ajaran Islam di wilayah Madura. Kisah tersebut menempatkan Pangeran Cakranegara sebagai figur penting dalam sejarah lokal yang dihormati hingga sekarang.

Sebagian cerita rakyat menyebutkan bahwa tokoh ini hidup pada masa yang berkaitan dengan pengaruh kerajaan besar seperti  Mataram yang pernah memiliki jaringan kekuasaan luas di Jawa dan sekitarnya. Dalam perkembangan berikutnya, wilayah Madura juga mengalami proses penyebaran Islam yang berlangsung secara bertahap melalui tokoh-tokoh lokal, ulama, dan jaringan kerajaan pesisir. Tradisi ziarah ke makam tokoh lama kemudian menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap jejak sejarah tersebut.

Keberadaan makam Pangeran Plakaran di Dusun Dhimor menjadi salah satu penanda penting dalam memori masyarakat setempat. Makam ini tidak hanya dipandang sebagai situs pemakaman, tetapi juga sebagai ruang yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masyarakat masa kini. Oleh sebab itu, praktik rokat yang dilakukan di tempat tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar ritual keagamaan.

Pelaksanaan Rokat Bujuk Kramat dalam Kehidupan Masyarakat

Pelaksanaan Rokat Bujuk Kramat biasanya melibatkan masyarakat dari beberapa wilayah sekitar, termasuk warga Kampung Lembung yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka mencerminkan hubungan sosial yang kuat antara komunitas desa dengan situs makam yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual. Tradisi ini juga menjadi momen berkumpulnya masyarakat dalam suasana kebersamaan.

Rangkaian kegiatan rokat umumnya dimulai dengan ziarah ke makam Raden Cakranegara di Dusun Dhimor. Masyarakat yang hadir kemudian mengikuti pembacaan doa, Yasin dan Tahlilan yang dipimpin oleh sesepuh kampung atau tokoh agama setempat. Dalam tradisi Madura, peran sesepuh sangat penting karena mereka dianggap sebagai penjaga nilai dan pengetahuan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Pembacaan doa dan tahlil menjadi bagian utama dari prosesi tersebut. Praktik ini mencerminkan perpaduan antara tradisi lokal dengan ajaran Islam yang telah lama berkembang di Madura. Melalui doa bersama, masyarakat berharap mendapatkan keberkahan sekaligus menjaga hubungan spiritual dengan para leluhur yang dihormati.

Kegiatan rokat juga berfungsi sebagai ruang sosial yang memperkuat ikatan antarwarga. Dalam suasana tersebut, masyarakat berkumpul tidak hanya untuk menjalankan ritual, tetapi juga untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana praktik keagamaan dan adat dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat desa.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Seiring dengan perubahan sosial yang terjadi di berbagai daerah, sejumlah tradisi lokal mengalami pergeseran fungsi atau bahkan mulai ditinggalkan. Namun, Rokat Bujuk Kramat di wilayah Jrengik masih tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat. Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif untuk menjaga hubungan dengan sejarah dan warisan leluhur.

Bagi masyarakat sekitar, rokat bukan sekadar kegiatan seremonial yang dilakukan secara rutin. Tradisi ini juga menjadi cara untuk mengingat tokoh-tokoh masa lalu yang dianggap memiliki peran dalam perjalanan sejarah daerah. Dengan demikian, praktik rokat dapat dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap memori kolektif yang hidup di tengah masyarakat.

Keberadaan tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Madura merawat hubungan antara agama, adat, dan sejarah lokal. Dalam praktik sehari-hari, unsur-unsur tersebut sering kali tidak dipisahkan secara tegas. Sebaliknya, semuanya hadir dalam satu rangkaian kegiatan yang membentuk identitas budaya masyarakat.

Hingga kini, makam Raden Cakranegara di Dusun Dhimor tetap menjadi tempat yang dihormati oleh masyarakat Desa Plakaran dan wilayah sekitarnya. Tradisi Rokat Bujuk Kramat yang terus dilaksanakan menunjukkan bahwa memori sejarah tidak selalu tercatat dalam arsip tertulis. Dalam banyak kasus, ingatan tersebut justru hidup melalui praktik budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melalui tradisi semacam ini, masyarakat tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjaga kesinambungan nilai yang membentuk kehidupan sosial mereka. Kolom Jejak di Sastranusa.id ini, ingin merawat ingatan tradisi sebagai bagian dari perjalanan panjang budaya, bukan sekadar cerita masa lalu. Salah satu contohnya Rokat Malam Bujuk Kramat ini.*

Penulis: AHe #Rokat_Bujuk_Kramat #Tradisi_Madura #Jrengik_Sampang #Ziarah_Makam #Budaya_Nusantara

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad