![]() |
| Ilustrasi Tradisi Ajhãr Penca' Madura: menegaskan kekuatan, fokus, dan semangat yang mengalir dalam setiap langkah. (Gambar oleh Villiue Kukanauskas dari Pixabay) |
Sastranusa.id, Madura - Tradisi Ajhãr Penca’ menjadi salah satu warisan budaya yang pernah melekat kuat dalam kehidupan keluarga di Madura. Ajhãr Penca’ merujuk pada kebiasaan mengajarkan ilmu pencak silat kepada anak atau cucu dalam lingkungan keluarga sendiri. Praktik ini tidak berlangsung melalui perguruan formal, melainkan melalui hubungan langsung antara generasi tua dan generasi muda.
Dalam tradisi tersebut, bela diri tidak dipahami sekadar sebagai keterampilan fisik. Ia juga menjadi sarana pendidikan karakter yang diwariskan melalui hubungan keluarga. Nilai keberanian, pengendalian diri, serta tanggung jawab sosial sering disampaikan bersamaan dengan latihan gerakan silat.
Seorang pendekar silat di Sampang, Sadewo, menyebut bahwa Ajhãr Penca’ telah diwariskan sejak lama oleh keluarga-keluarga Madura. Ilmu tersebut biasanya diajarkan oleh anggota keluarga yang lebih tua kepada anak atau cucunya. Prosesnya berlangsung sederhana, tetapi memiliki arti penting dalam perjalanan hidup keluarga.
Di banyak wilayah Madura, proses belajar silat keluarga ini dilakukan secara informal. Seorang ayah, paman, atau kakek yang dianggap menguasai pencak akan membimbing generasi muda di lingkungan rumah. Latihan sering dilakukan di halaman rumah, tanah lapang, atau ruang terbuka di sekitar tempat tinggal.
Gerakan silat yang diajarkan dalam Ajhãr Penca’ biasanya memiliki ciri khas tersendiri. Setiap keluarga dapat mewarisi teknik yang berbeda, sesuai dengan ajaran yang diterima dari leluhur mereka. Karena itu, tradisi ini juga menyimpan keragaman gaya bela diri yang berkembang dalam ruang keluarga.
Dalam praktiknya, pengajaran tersebut tidak hanya menekankan teknik bertarung. Anak-anak yang mempelajari Ajhãr Penca’ sering diingatkan bahwa ilmu bela diri harus disertai sikap rendah hati. Kemampuan itu dipandang sebagai bekal untuk menjaga diri dan kehormatan, bukan untuk mencari pertikaian.
Di masa lalu, kebiasaan mengajarkan silat keluarga seperti ini cukup umum ditemui dalam kehidupan masyarakat Madura. Ilmu tersebut dianggap sebagai warisan yang harus dijaga agar tidak hilang. Karena itu, orang tua sering merasa berkewajiban untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Namun perubahan sosial dalam beberapa dekade terakhir mulai memengaruhi keberlanjutan tradisi tersebut. Kehadiran berbagai perguruan silat modern membuka ruang baru bagi generasi muda untuk belajar bela diri. Proses belajar yang dahulu berlangsung dalam keluarga kini banyak berpindah ke lembaga latihan yang lebih terorganisasi.
Sadewo menyebut bahwa meskipun berbagai perguruan silat berkembang, sebagian keluarga masih mempertahankan Ajhãr Penca’. Mereka memandang ilmu yang diwariskan oleh leluhur sebagai bagian dari identitas keluarga. Tradisi tersebut dianggap menyimpan nilai sejarah yang tidak tergantikan.
Di sisi lain, tidak semua keluarga mampu meneruskan kebiasaan tersebut. Perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan, serta berkurangnya figur keluarga yang menguasai ilmu silat membuat praktik ini semakin jarang ditemukan. Dalam beberapa kasus, tradisi itu berhenti ketika generasi tua tidak lagi memiliki penerus yang belajar secara langsung.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal menghadapi tantangan di tengah perubahan zaman. Praktik yang dahulu hidup di lingkungan keluarga kini harus berhadapan dengan sistem pendidikan yang lebih formal. Perubahan tersebut tidak selalu menghapus tradisi, tetapi sering membuatnya mengalami penyusutan.
Meski demikian, Ajhãr Penca’ tetap memiliki arti penting dalam sejarah budaya Madura. Tradisi ini menunjukkan bahwa bela diri tidak hanya dipahami sebagai olahraga atau pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian dari pendidikan keluarga. Melalui latihan sederhana di lingkungan rumah, nilai keberanian dan tanggung jawab diwariskan dari generasi ke generasi.
Kolom Sorot menempatkan dinamika tradisi hari ini dalam kerangka makna budaya, bukan sekadar peristiwa yang lewat. Tradisi Ajhãr Penca’ memperlihatkan bagaimana keluarga Madura pernah menjadi ruang pendidikan bela diri yang penting, sekaligus menunjukkan tantangan yang dihadapi warisan budaya ketika berhadapan dengan perubahan zaman.*
Penulis: AHe #Tradisi_Madura #Budaya_Madura #Kearifan_Lokal #Warisan_Silat_Madura #Tradisi_Nusantara
