Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Tradisi Ngala’ Sabãb di Sampang Masih Lestari, Cara Pemuda Belajar Sebelum Akad

Dua orang berpakaian tradisional berjalan di jalan pedesaan dengan latar gunung hijau
Ilustrasi pemuda berpakaian santri pedesaan melakukan tradisi Ngala' Sabãb Madura, yakni melakukan tugas dari gurunya. (Gambar oleh Syauqi Fillah dari Pixabay)

Sastranusa.id, Madura - Di sejumlah kampung di Sampang, terdapat kebiasaan yang dijalani sebagian pemuda sebelum memasuki pernikahan. Tradisi itu dikenal dengan sebutan Ngala’ Sabãb, sebuah praktik belajar sekaligus mengabdi kepada guru ngaji di surau sebelum akad nikah dilangsungkan. Meski tidak selalu dilakukan oleh semua calon pengantin, kebiasaan ini masih dijumpai dalam kehidupan masyarakat desa di Madura.

Di tengah perubahan gaya hidup yang semakin cepat, tradisi tersebut tetap dipertahankan oleh sebagian keluarga. Bagi masyarakat setempat, Ngala’ Sabãb bukan hanya ritual menjelang pernikahan, tetapi juga proses pembelajaran moral sebelum seseorang memulai kehidupan rumah tangga. Praktik ini memperlihatkan bagaimana nilai agama dan budaya lokal saling bertemu dalam satu tradisi.

Jejak Tradisi dalam Pendidikan Moral Pemuda

Pelaku tradisi ini, yakni pemuda Desa Plakaran Sampang Iqbal, menyebut bahwa Ngala’ Sabãb telah dikenal sejak Islam mulai berkembang di wilayah tersebut beberapa puluhan tahun lalu. Tradisi ini dipahami sebagai bentuk mengambil sebab atau mencari berkah kepada guru ngaji di surau. Dalam praktiknya, seorang pemuda yang hendak menikah akan mengabdi kepada gurunya sebelum akad berlangsung.

Pengabdian itu biasanya dilakukan dengan membantu berbagai pekerjaan di lingkungan surau. Tugas yang dijalankan dapat berupa menyapu tempat mengaji, membersihkan halaman, atau membantu kegiatan santri lainnya. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada guru sekaligus latihan kedisiplinan bagi calon kepala keluarga.

Durasi Ngala’ Sabãb tidak memiliki aturan yang baku. Ada pemuda yang melakukannya selama satu bulan, sebagian hanya satu minggu, bahkan ada yang menjalani selama sehari semalam. Lamanya waktu sering bergantung pada kesiapan calon pengantin dan kesepakatan dengan guru ngaji yang membimbingnya.

Di sela-sela aktivitas itu, calon pengantin laki-laki biasanya mendapatkan pengajaran tentang tata cara akad nikah. Salah satu pelajaran yang diberikan adalah cara mengucapkan ijab qabul dengan benar. Latihan ini dianggap penting agar prosesi akad dapat berlangsung lancar ketika hari pernikahan tiba.

Belajar Ijab Qabul dan Filosofi Berkeluarga

Pembelajaran dalam Ngala’ Sabãb tidak berhenti pada latihan ijab qabul. Guru ngaji sering memanfaatkan waktu tersebut untuk menyampaikan nasihat tentang kehidupan rumah tangga. Nasihat tersebut disampaikan secara sederhana, namun memiliki makna yang dalam bagi calon pengantin.

Salah satu perumpamaan yang sering digunakan menggambarkan kehidupan berkeluarga seperti perjalanan berlayar. Suami dan istri diibaratkan sebagai dua orang yang mengendalikan perahu bersama. Sementara angin dan ombak melambangkan berbagai persoalan yang akan dihadapi dalam kehidupan rumah tangga.

Melalui perumpamaan itu, calon pengantin diajak memahami bahwa pernikahan tidak selalu berjalan tenang. Ada masa ketika kehidupan terasa mudah, namun ada pula saat ketika berbagai masalah datang silih berganti. Filosofi ini menjadi bekal moral agar pasangan suami istri mampu menghadapi kehidupan dengan kesabaran.

Dalam konteks sosial, tradisi ini juga memperlihatkan peran surau sebagai pusat pembelajaran masyarakat. Surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pendidikan informal yang menanamkan nilai-nilai kehidupan. Melalui interaksi antara guru dan murid, pengetahuan budaya diwariskan secara alami.

Tradisi Lama di Tengah Perubahan Zaman

Perubahan sosial yang terjadi di berbagai wilayah Madura turut memengaruhi praktik Ngala’ Sabãb. Sebagian pemuda kini menjalani persiapan pernikahan dengan cara yang lebih praktis, terutama di daerah perkotaan. Namun di sejumlah desa, tradisi ini masih dijalankan sebagai bagian dari kebiasaan lama.

Keberlanjutan tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih melihat nilai penting dalam proses pembelajaran sebelum menikah. Ngala’ Sabãb memberi ruang bagi calon pengantin untuk merenungkan tanggung jawab baru yang akan dijalani. Dalam konteks ini, pernikahan tidak hanya dipahami sebagai peristiwa seremonial, tetapi juga sebagai tahap kedewasaan.

Tradisi ini juga mencerminkan hubungan erat antara agama dan kehidupan sosial masyarakat Madura. Surau menjadi tempat pertemuan antara generasi muda dan tokoh agama yang dihormati. Melalui proses belajar yang sederhana, nilai-nilai kehidupan berkeluarga disampaikan secara langsung dari guru kepada murid.

Ngala’ Sabãb memperlihatkan bagaimana masyarakat Madura merawat kebiasaan lama yang mengandung pesan moral bagi generasi muda. Di tengah modernitas yang terus bergerak, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kesiapan berkeluarga tidak hanya diukur dari kesiapan materi, tetapi juga dari kematangan sikap dan pemahaman hidup.*

Penulis: AHe #Tradisi_Madura #Tradisi_Pernikahan_Madura #Kearifan_Lokal #Tradisi_Nusantara

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad