Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Tradisi Nyabã’ Oca’ di Madura, Awal Perembukan Pertunangan dalam Ruang Sastra Lisan

Ilustrasi pertemuan sesepuh keluarga dalam tradisi Nyabã’ Oca’ Madura saat membicarakan awal pertunangan.
Ilustrasi suasana pertemuan para sesepuh keluarga dalam tradisi Nyabã’ Oca’ sebagai awal perembukan pertunangan di Madura. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Tintanesia)

Sastranusa.id, Madura -  Di sejumlah kampung di Madura, proses menuju sebuah pertunangan tidak selalu dimulai dengan pertemuan langsung antara dua keluarga inti. Sebaliknya, tahap awal sering dilakukan melalui perembukan para sesepuh kampung dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai Nyabã’ Oca’. Tradisi ini menjadi ruang komunikasi awal yang mempertemukan keluarga calon mempelai melalui perantaraan tokoh-tokoh yang dihormati.

Nyabã’ Oca’ bukan sekadar percakapan biasa tentang rencana pernikahan. Ia merupakan praktik budaya yang memadukan diplomasi keluarga dengan kekayaan bahasa sastra Madura. Dalam tradisi ini, keputusan awal mengenai hubungan dua keluarga sering ditentukan melalui perbincangan para sesepuh yang berlangsung dengan penuh kehati-hatian.

Menurut Teh Raji, seorang sesepuh yang terbiasa menyaksikan praktik Nyabã’ Oca’, tradisi ini merupakan langkah pertama dalam membangun hubungan antara dua keluarga yang anaknya hendak dipertemukan dalam ikatan pernikahan. Ia menyebut bahwa proses tersebut tidak dilakukan secara langsung oleh orang tua calon mempelai. Sebaliknya, tokoh-tokoh yang dihormati di kampung akan terlibat sebagai juru bicara.

Dalam praktiknya, seorang sesepuh dari pihak keluarga laki-laki datang ke rumah keluarga perempuan. Kedatangannya bukan untuk menyampaikan maksud secara terbuka, melainkan untuk memulai percakapan yang penuh isyarat dan kehati-hatian. Di rumah keluarga perempuan biasanya telah hadir pula seorang tokoh adat atau sesepuh lain yang diminta keluarga untuk menerima tamu tersebut.

Percakapan kemudian berlangsung dalam suasana yang tenang namun sarat makna. Para sesepuh tidak menggunakan bahasa sehari-hari yang langsung dan lugas. Sebaliknya, mereka memakai bahasa sastra Madura kuno yang penuh kiasan, ungkapan halus, serta permainan kata.

Salah satu contoh ungkapan yang sering disebut dalam tradisi ini adalah kalimat, “Cabis pamator, ken mereksanen, pola anak biné’ ka'dinto sobung se nacerré?” Ungkapan tersebut secara sederhana bermakna permohonan maaf untuk menanyakan apakah anak perempuan yang dimaksud sudah memiliki calon atau kekasih. Kalimat tersebut menunjukkan bagaimana pertanyaan penting disampaikan melalui bahasa yang halus dan penuh sopan santun.

Bahasa sastra yang digunakan dalam Nyabã’ Oca’ tidak selalu berbentuk kalimat biasa. Dalam beberapa kesempatan, percakapan juga disampaikan melalui pantun, perumpamaan, atau bentuk persemonan khas Madura. Ragam bahasa tersebut menciptakan suasana percakapan yang sekaligus menjadi ruang ekspresi sastra lisan.

Kemampuan para sesepuh memainkan bahasa menjadi unsur penting dalam tradisi ini. Kata-kata yang dipilih harus mampu menyampaikan maksud tanpa menyinggung perasaan pihak lain. Di sinilah kecermatan dan pengalaman para tokoh kampung sering menentukan arah pembicaraan.

Nyabã’ Oca’ tidak selalu berakhir dengan kesepakatan. Dalam beberapa kasus, perbincangan dapat berujung pada penolakan secara halus. Bahasa sastra yang digunakan memungkinkan keputusan tersebut disampaikan tanpa menciptakan rasa malu atau konflik antar keluarga.

Dalam konteks sosial, praktik seperti ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Madura menempatkan kehormatan dan tata krama dalam hubungan keluarga. Proses perjodohan tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan melalui tahapan komunikasi yang menghargai perasaan semua pihak.

Keberadaan Nyabã’ Oca’ juga menunjukkan kuatnya posisi para sesepuh dalam struktur sosial desa. Mereka tidak hanya berperan sebagai tokoh adat, tetapi juga sebagai mediator yang menjaga keseimbangan hubungan antar keluarga. Kepercayaan terhadap para tokoh tersebut membuat proses komunikasi berjalan lebih tertib dan terarah.

Menurut sejumlah cerita lisan yang beredar di masyarakat, tradisi Nyabã’ Oca’ telah ada sejak masa yang sangat lama. Bahkan sebagian orang meyakini bahwa praktik ini telah berlangsung sebelum masa kerajaan Majapahit. Meski sulit dipastikan secara historis, keyakinan tersebut memperlihatkan betapa tua dan mengakarnya tradisi ini dalam ingatan kolektif masyarakat.

Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, keberadaan tradisi ini menghadapi tantangan tersendiri. Proses perkenalan pasangan kini sering berlangsung melalui jalur yang lebih langsung, terutama di kalangan generasi muda. Namun di sejumlah kampung, Nyabã’ Oca’ masih dipandang sebagai cara yang bermartabat untuk memulai hubungan antara dua keluarga.

Tradisi ini pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan proses pertunangan. Ia juga menjadi ruang tempat bahasa sastra Madura tetap hidup dalam praktik sosial masyarakat. Percakapan para sesepuh tidak hanya menyampaikan maksud perjodohan, tetapi juga memelihara warisan bahasa yang sarat nilai kesopanan.

Kolom Sorot dalam Sastranusa.id menempatkan dinamika tradisi hari ini dalam kerangka makna budaya, bukan sekadar peristiwa yang lewat. Nyabã’ Oca’ memperlihatkan bagaimana masyarakat Madura menjaga kehormatan keluarga melalui bahasa, serta bagaimana sastra lisan tetap menemukan tempatnya dalam praktik kehidupan sehari-hari.*

Penulis: AHe #Tradisi_Madura #Adat_Madura #Sastra_Lisan_Madura #Kearifan_Lokal #Tradisi_Nusantara

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad