Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Tradisi Nyelasé di Madura, Ziarah Leluhur yang Terjaga pada Malam Jumat

Ilustrasi warga Madura melakukan ziarah makam leluhur dalam tradisi Nyelasé pada Kamis sore menjelang malam Jumat.
Ilustrasi tradisi Nyelasé saat warga Madura berziarah ke makam leluhur pada Kamis sore menjelang malam Jumat. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Sastranusa.id)

Sastranusa.id, Madura - Tradisi ziarah kepada leluhur masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sebagian masyarakat Madura. Praktik ini dikenal dengan sebutan Nyelasé, yaitu kebiasaan mengunjungi makam orang tua, kakek, atau leluhur sebagai bentuk penghormatan dan doa. Meski berlangsung secara sederhana, tradisi ini menyimpan makna spiritual yang terus dipertahankan hingga sekarang.

Nyelasé biasanya dilakukan secara pribadi oleh seseorang yang datang ke makam keluarganya. Tidak ada aturan resmi yang mengikat, tetapi kebiasaan ini telah menjadi bagian dari rutinitas spiritual yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Dalam praktiknya, ziarah tersebut dipahami sebagai cara menjaga hubungan batin dengan para pendahulu.

Seorang tokoh masyarakat di Sampang bernama Hapid menyebut bahwa tradisi Nyelasé telah dikenal sejak lama di kalangan masyarakat Madura. Kebiasaan ini tetap dilakukan hingga hari ini, meskipun kehidupan sosial masyarakat telah banyak berubah. Bagi sebagian keluarga, Nyelasé menjadi bagian dari ingatan dan penghormatan terhadap garis keturunan mereka.

Dalam pelaksanaannya, seseorang yang datang ke makam biasanya memulai dengan membaca tawassul kepada Nabi Muhammad serta kepada para leluhur yang telah meninggal. Setelah itu, rangkaian bacaan dilanjutkan dengan surat Yasin, tahlil, dan doa. Rangkaian tersebut menjadi inti dari ritual yang dijalankan secara khusyuk.

Doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan kepada orang yang telah meninggal. Banyak orang juga memohon keberkahan dan ketenangan hidup bagi keluarga yang masih hidup. Dengan cara itu, ziarah makam tidak hanya dipahami sebagai penghormatan kepada masa lalu, tetapi juga sebagai harapan bagi kehidupan masa kini.

Dalam kehidupan masyarakat Madura, waktu pelaksanaan Nyelasé memiliki pola yang cukup dikenal. Banyak orang melakukan ziarah pada Kamis sore menjelang malam Jumat. Waktu tersebut dianggap sebagai momen yang baik untuk berdoa dan mengingat para leluhur.

Selain dilakukan secara rutin setiap pekan, tradisi ini juga sering dilakukan menjelang hari-hari besar keagamaan. Sore hari sebelum Idul Fitri dan Idul Adha menjadi waktu yang cukup ramai di sejumlah kompleks pemakaman. Pada saat itu, keluarga-keluarga datang untuk membersihkan makam sekaligus memanjatkan doa bersama.

Kebiasaan tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan antara keluarga dan leluhur tetap dipelihara melalui praktik spiritual. Ziarah makam tidak sekadar kegiatan ritual, tetapi juga bagian dari cara masyarakat menjaga kesinambungan ingatan keluarga. Makam menjadi ruang simbolik yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan generasi sekarang.

Dalam konteks budaya Madura, praktik seperti Nyelasé juga menunjukkan kuatnya nilai penghormatan kepada orang tua dan leluhur. Nilai tersebut tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan yang dilakukan secara berulang. Melalui ziarah, keluarga mengingat kembali asal-usul mereka sekaligus merawat ikatan emosional dengan generasi sebelumnya.

Di tengah perubahan zaman, sebagian tradisi lokal memang mengalami penyusutan. Namun praktik ziarah seperti Nyelasé masih tetap ditemukan di berbagai tempat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi spiritual sering memiliki daya tahan yang kuat dalam kehidupan masyarakat.

Keberlanjutan Nyelasé juga memperlihatkan bagaimana praktik keagamaan dan kebudayaan saling bertaut dalam kehidupan sehari-hari. Bacaan doa yang dilantunkan menjadi bagian dari ibadah, sementara kebiasaan ziarah itu sendiri menjadi warisan budaya yang diwariskan dalam keluarga.

Tradisi ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menjadi cara masyarakat menata hubungan antara generasi yang telah pergi dan generasi yang masih menjalani kehidupan. Melalui kunjungan sederhana ke makam, ingatan terhadap leluhur tetap hidup dalam kehidupan keluarga.

Kolom Sorot Sastranusa.id ini, menempatkan dinamika tradisi hari ini dalam kerangka makna budaya, bukan sekadar peristiwa yang lewat. Nyelasé memperlihatkan bagaimana masyarakat Madura merawat hubungan spiritual dengan para leluhur, sekaligus menunjukkan bahwa ingatan budaya sering bertahan melalui praktik sederhana yang dilakukan secara berulang dari waktu ke waktu.*

Penulis: AHe #Tradisi_Madura #Ziarah_Leluhur #Budaya_Madura #Kearifan_Lokal #Tradisi_Nusantara

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad