Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Mengungkap Filosofi Hidup di Balik Tradisi Pelet Kandung Madura

Perut hamil dengan tangan membentuk hati penuh cinta dan harapan menyambut kelahiran bayi
Perut hamil dengan tangan membentuk hati penuh cinta dan harapan menyambut kelahiran bayi bahagia. (Gambar oleh StockSnap dari Pixabay)

Sastranusa.id, Madura - Di tengah kehidupan masyarakat Pulau Madura, dikenal sebuah tradisi selamatan kehamilan yang disebut Pelet Kandung, atau di beberapa daerah disebut Peret Kandung maupun Pelet Betteng. 

Diketahui tradisi pelet kandung ini, dilaksanakan ketika usia kandungan memasuki empat atau tujuh bulan, sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan ibu dan bayi. Praktik tersebut memperlihatkan perpaduan adat lokal dan ajaran Islam yang telah berlangsung lintas generasi.

Pelet Kandung tumbuh dalam masyarakat agraris yang menempatkan kelahiran sebagai peristiwa sosial, bukan semata urusan keluarga inti. Kehadiran seorang anak dipandang sebagai anugerah sekaligus amanah yang menyangkut martabat keluarga besar. Oleh sebab itu, ritual keselamatan kehamilan menjadi ruang kolektif untuk memohon perlindungan dan keberkahan.

Jejak historisnya tidak tercatat dalam arsip tertulis yang rinci, melainkan hidup melalui tradisi lisan dan praktik turun-temurun. Sejumlah penuturan menyebutkan bahwa bentuk awal selamatan kehamilan telah ada sebelum pengaruh Islam menguat di Madura. Seiring proses islamisasi, unsur doa dan pembacaan shalawat semakin menonjol tanpa menghapus simbol-simbol adat yang telah lebih dahulu dikenal.

Prosesi dan Simbol dalam Pelet Kandung

Prosesi Pelet Kandung umumnya diawali dengan siraman atau mandi kembang yang dipimpin sesepuh perempuan, sering kali nenek atau tokoh yang dituakan. Air yang dicampur bunga disiramkan secara perlahan kepada ibu hamil sebagai lambang penyucian dan harapan kebaikan. Dalam pemaknaan lokal, air kembang melambangkan doa agar kelak anak memiliki nama yang harum dan budi pekerti yang baik.

Tahapan berikutnya berupa pijat atau urut kandung yang dilakukan secara lembut pada perut ibu hamil. Praktik ini dimaksudkan sebagai ikhtiar simbolik agar posisi janin baik dan persalinan berjalan lancar. Di balik tindakan fisik tersebut, tersimpan keyakinan bahwa sentuhan penuh doa menguatkan batin ibu yang sedang menanti kelahiran.

Salah satu bagian yang paling dikenal adalah prosesi pecah telur ayam kampung. Telur dimasukkan ke dalam kain, lalu dijatuhkan atau dipecahkan sebagai simbol terbukanya jalan lahir bayi. Simbol ini merepresentasikan harapan agar proses persalinan berlangsung mudah tanpa hambatan berarti.

Dalam beberapa pelaksanaan, kelapa gading turut dihadirkan sebagai perlambang kecantikan atau ketampanan paras anak. Makna tersebut bukan sekadar soal rupa, melainkan doa agar anak tumbuh membawa kebaikan dan disenangi lingkungan. Simbol-simbol ini menunjukkan cara masyarakat merumuskan harapan melalui benda-benda yang akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian prosesi ditutup dengan pembacaan doa dan shalawat bersama. Unsur ini memperlihatkan kuatnya pengaruh Islam dalam membingkai tradisi lokal. Selamatan kemudian dilanjutkan dengan pembagian makanan sebagai bentuk sedekah dan ungkapan syukur atas karunia kehamilan.

Perubahan dan Keberlanjutan Pelet Kandung di Tengah Zaman

Memasuki abad ke-20, ketika pendidikan formal dan layanan kesehatan semakin berkembang, sebagian unsur Pelet Kandung mengalami penyesuaian. Praktik urut kandung misalnya, kini sering dipadukan dengan anjuran medis yang lebih berhati-hati. Namun makna simbolik dan doa bersama tetap dipertahankan sebagai inti tradisi.

Di lingkungan perkotaan Madura maupun komunitas perantau, pelaksanaan Pelet Kandung kadang disederhanakan. Siraman dilakukan secara simbolis, sementara pembacaan doa menjadi bagian utama. Penyederhanaan ini menunjukkan bahwa tradisi mampu beradaptasi tanpa sepenuhnya kehilangan identitas.

Sebagian kalangan memandang Pelet Kandung sebagai bentuk akulturasi antara adat dan agama. Unsur-unsur lokal seperti air kembang dan pecah telur berjalan berdampingan dengan pembacaan ayat suci dan shalawat. Dalam kerangka sejarah, perpaduan ini mencerminkan proses panjang interaksi budaya di Madura.

Hingga kini, Pelet Kandung masih dilaksanakan di berbagai desa sebagai warisan leluhur yang dijaga dengan hormat. Tradisi ini tidak hanya memuat doa keselamatan, tetapi juga mempererat hubungan antaranggota keluarga dan tetangga. Momen selamatan menjadi ruang berbagi kabar, memperkuat solidaritas, dan menegaskan pentingnya kehadiran komunitas dalam setiap fase kehidupan.

Pelet Kandung memperlihatkan bahwa masyarakat Madura merespons peristiwa biologis dengan bahasa simbolik yang sarat makna. Setiap air yang disiramkan, telur yang dipecahkan, dan doa yang dipanjatkan merekam cara pandang terhadap kehidupan sebagai amanah yang perlu dijaga bersama. Dalam jejaknya, tersimpan gambaran tentang hubungan antara manusia, tradisi, dan keyakinan yang saling menguatkan.*

Penulis: AHe #Pelet_Kandung #Tradisi_Madura #Selamatan_Kehamilan #Budaya_Nusantara #Ritual_Adat

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad