Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Tradisi Biri Pasah, Makna Berbagi di Bulan Ramadan Versi Madura

Anak kecil berpakaian putih membaca kitab suci di masjid dengan arsitektur islami indah
Anak kecil berpakaian putih membaca kitab suci di masjid dengan arsitektur islami indah penuh makna. (Gambar oleh Muhammad Faheem Ahmed dari Pixabay)

Sastranusa.id, Madura - Malam Ramadan di Madura selalu memiliki bunyi yang khas. Dari langgar dan masjid, lantunan ayat suci mengalun pelan, seolah menyulam udara dengan kesabaran yang tak terlihat. Di sela suara itu, ada langkah-langkah kecil yang datang membawa nampan berisi jajan, sederhana namun hangat, itulah yang dikenal sebagai tradisi Biri Pasah.

Di beberapa kampung di Pulau Madura, Biri atau Birri bukan sekadar kebiasaan membagi makanan. Ia termasuk cara keluarga menyapa malam, menyapa para pembaca Al Quran yang duduk bersila di langgar, dan menyapa diri sendiri agar tetap ingat pada arti berbagi. Satu keluarga membawa jajan untuk mereka yang tadarus, lalu malam berikutnya keluarga lain mengambil giliran untuk berbagi, begitu seterusnya hingga Ramadan beranjak tua.

Tidak ada pengumuman besar, tidak pula baliho yang mencatat siapa yang memberi paling banyak. Semua berjalan dengan kesadaran yang nyaris sunyi, seolah setiap orang telah memahami perannya tanpa perlu diingatkan. Dalam kesederhanaan itulah Biri Pasah menemukan kekuatannya.

Sering kali yang dibagikan bukanlah hidangan mewah. Kue basah, gorengan, atau minuman manis yang dibuat dengan tangan sendiri sudah cukup untuk menghangatkan malam. Namun justru pada kesederhanaan itu, tersimpan pesan yang jauh lebih luas daripada hanya untuk rasa kenyang.

Biri Pasah memperlihatkan bahwa berbagi di bulan puasa bukan tentang kelimpahan, melainkan tentang kehadiran. Keluarga yang membawa jajan sedang mengatakan bahwa ibadah para penadarus tidak dibiarkan sendiri. Ada dukungan yang diam-diam menguatkan, ada rasa terima kasih yang tidak selalu terucap.

Dalam masyarakat Madura yang dikenal menjunjung harga diri dan kehormatan, berbagi memiliki dimensi sosial yang dalam. Memberi bukan hanya tindakan amal, tetapi juga pernyataan bahwa seseorang terhubung dengan lingkungannya. Ketika satu keluarga mengambil giliran, ia sedang merawat ikatan yang mungkin tak terlihat namun terasa kokoh.

Biri Pasah juga mengajarkan tentang bergiliran. Setiap malam ada keluarga berbeda yang menyiapkan jajan, seakan mengingatkan bahwa tanggung jawab sosial tidak boleh ditanggung oleh satu pihak saja. Beban dan berkah dibagi rata, sehingga tidak ada yang merasa paling berjasa atau paling terbebani.

Dalam pola bergiliran itu, tersimpan pelajaran tentang keseimbangan. Yaitu berkenaan dengan ramadan yang tidak boleh dijalani dengan kompetisi, melainkan dengan kolaborasi. Setiap orang memiliki ruang untuk berperan, sekecil apa pun peran itu.

Langgar dan masjid menjadi saksi bahwa tradisi ini bukan sekadar rutinitas. Di tempat-tempat sederhana itulah ayat-ayat suci dibaca dengan tekun, dan di situlah pula jajan diletakkan dengan penuh hormat. Seolah makanan itu menjadi jembatan antara ibadah vertikal dan solidaritas horizontal.

Ada sesuatu yang menyentuh ketika membayangkan seorang ibu menyiapkan jajan sejak sore hari. Barangkali ia tidak ikut duduk dalam lingkaran tadarus, tetapi melalui Biri Pasah ia merasa menjadi bagian dari suasana sakral itu. Dapur rumah dan ruang ibadah pun terhubung oleh niat yang sama.

Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana budaya lokal menyatu dengan nilai keagamaan tanpa perlu dipertentangkan. Ramadan hadir sebagai momentum spiritual, sementara Biri Pasah menjadi ekspresi kultural yang membumikan makna puasa. Keduanya berjalan beriringan, saling menguatkan tanpa saling mendominasi.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, kebiasaan seperti ini mungkin tampak sederhana. Namun justru pada kesederhanaan itulah terdapat ketahanan. Tradisi yang tidak bergantung pada teknologi atau kemewahan cenderung lebih mudah diwariskan, karena ia hidup dalam ingatan dan kebiasaan sehari-hari.

Biri Pasah juga memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar tanpa ceramah panjang. Mereka melihat orang tua menyiapkan jajan, mengantar ke langgar, dan menyapa para penadarus dengan sopan. Dari situ tumbuh pemahaman bahwa berbagi adalah bagian alami dari hidup bermasyarakat.

Tidak ada janji perubahan instan dari satu nampan jajan. Tidak ada klaim bahwa dengan memberi sekali seseorang akan langsung menjadi lebih saleh. Yang ada hanyalah proses kecil yang diulang setiap malam, membentuk karakter perlahan seperti tetesan air yang mengukir batu.

Barangkali di luar Madura ada tradisi serupa dengan nama berbeda. Mengingat Nusantara memang kaya dengan cara-cara unik untuk merawat kebersamaan di bulan puasa. Namun Biri Pasah memiliki rasa lokal yang khas, lahir dari pengalaman sosial masyarakatnya sendiri.

Di tengah arus individualisme yang kerap menyelinap ke ruang-ruang privat, Biri Pasah menjadi pengingat bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya urusan pribadi. Ibadah yang paling personal pun tetap memiliki dimensi sosial. Ketika seseorang membaca Al Quran di langgar, ada komunitas yang diam-diam menopangnya.

Tradisi ini juga menyiratkan bahwa memberi tidak harus menunggu kaya. Justru dengan kondisi yang apa adanya, orang belajar menyisihkan sebagian untuk orang lain. Dalam konteks itu, berbagi menjadi latihan mengelola keinginan dan menata prioritas.

Ada ketenangan tersendiri saat membayangkan malam-malam Ramadan yang diisi oleh lantunan ayat dan langkah-langkah pengantar jajan. Seolah waktu berjalan lebih pelan, memberi ruang bagi setiap orang untuk menimbang kembali arti kebersamaan. Di tengah dunia yang sering gaduh, suasana seperti itu terasa melegakan.

Biri Pasah mungkin tidak tercatat dalam buku-buku besar tentang tradisi nasional. Ia hidup di gang-gang kampung, di halaman rumah, dan di ruang ibadah sederhana. Namun justru karena itu, ia terasa dekat dan nyata.

Di kolom esai ini, Sastranusa.id ingin merawat makna dengan bahasa yang jernih dan pengalaman yang dipikirkan, dan melalui Biri Pasah terlihat bahwa makna sering kali bersembunyi dalam tindakan kecil yang berulang. Tradisi ini mengajarkan bahwa berbagi adalah cara paling sederhana untuk merawat hubungan, baik dengan sesama maupun dengan Yang Maha Kuasa. Mungkin yang perlu dijaga bukan hanya tradisinya, melainkan kesadaran yang membuat tradisi itu terus hidup dari satu Ramadan ke Ramadan berikutnya.*

Penulis: AHe #Tradisi_Biri_Pasah #Ramadan #Tadarus_di_Langgar #Esai_Budaya #Tradisi_Madura

Baca Juga
Posting Komentar
Tutup Iklan
Ad